Setahun Kemarin: In Memoriam, Abah.

You’ll Always in Our Heart

Setahun kemarin, saya sengaja pulang kampung sejenak di pertengahan ramadhan. Tanggal 4 Agustus, hari sabtu tepatnya. Atau lebih tepat lagi, dalam hitungan kalender islam, tanggal 15 Ramadhan 1433 H. Itu sebenarnya di luar rencana saya, karena waktu itu saya berencana mudik sebelum lebaran saja. Maklum, kalau puasa gini, rasanya malas saja harus bolak balik ke kampung meski jaraknya Cuma dua jam saja dari Bandung.

Ada sebuah dorongan yang mengharuskan saya untuk pulang ke rumah. Untuk menemui Abah  yang waktu itu kembali jatuh sakit. Saya pikir, tidak ada salahnya saya pulang di pertengahan ramadhan, biar bisa ketemu Abah. Kebetulan, waktu itu kakak saya sedang ke Bandung jadi saya nebeng sekalian.

Sebelum mudik, saya sempatkan ke pusat perbelanjaan Pasar Baru. Membeli koko modern warna putih buat Abah, dan membeli baju putih juga buat ibu. Saya dan kakak juga sempatkan membeli cendol Elisabeth, salah satu minuman khas kota kembang ini.

Tiba di rumah, saya lihat kondisi Abah. Tidak sekurus waktu sakit setahun sebelumnya yang memakan waktu tujuh bulan itu. Tubuh Abah jauh lebih besar dari sebelumnya. Saya pikir, mungkin sakit Abah karena tidak mau makan saja. Sejak awal ramadhan 1433 H memang Abah sudah ikut puasa. Sehari penuh pula. Namun, saat sahur dan buka, Abah tidak makan seperti biasa. Jadi kondisinya menurun.

Saya mencium tangannya. Saya perlihatkan baju koko putih yang saya beli. Saya bilang, saya nggak bisa ngasih apa-apa, mengingat kondisi financial saya yang belum stabil lagi karena baru pindahan ke tempat kerja baru. Abah bilang terima kasih. Itu sudah cukup katanya. Kami terlibat sedikit dialog. Dan ujung-ujungnya saya coba untuk sedikit memaksa Abah supaya mau makan, tak usah puasa, mengingat kondisinya sedang sakit.  Saya perlihatkan bawaan kami, cendol Elisabeth itu. Alhamdulillah,  Abah mau.

“Sedikit saja.” Begitu kata Abah.

Saya coba tuangkan sedikit cendol Elisabeth tersebut. Kemudian saya coba meminumkannya dengan menggunakan sendok. Hanya dua sendok saja yang masuk. Setelah itu Abah kembali tidur, di kamar depan rumah tempat kami tumbuh itu. Kamar yang juga pernah saya tempati sebelum saya keluar dari rumah, memisahkan diri dari induk kehidupan saya. saya putuskan malam itu untuk tidur di rumah. Biasanya jika saya pulang kampung, saya tidur di rumah kakak, karena saya senang sekali bermain dengan keponakan-keponakan. Tapi malam itu, suara hati saya mengharuskan saya menginap di rumah. Alhamdulillahnya, kakak saya sekeluarga juga turut nginap di situ.

Abah dan Ibu diantara anak mantu cucu. foto diambil ketika idul fitri tahun 2010. (HS.2013)

Abah dan Ibu diantara anak mantu cucu. foto diambil ketika idul fitri tahun 2010. (HS.2013)

Waktu sahur. Kami makan, tanpa abah. Beliau tak kuat bangun, dan tak niat kami bangunkan juga. Biar istirahat saja. Setelah sahur, selesai shalat subuh, saya berniat melanjutkan tidur karena hari ahad siang menjelang sore saya harus kembali ke Bandung. Namun, belum juga mata terpejam, kakak perempuan saya membangunkan dan memberi tahu bahwa kondisi Abah menurun. Kami berkumpul di kamar depan. Seorang ustadz teman seperjuangan Abah datang menjenguk di pagi harinya. Pesan sang Ustadz, agar Abah terus dibimbing saja. Jangan lepas. Dibisiki kalimat-kalimat tauhid. Mata Abah tak pernah terbuka sejak subuh itu.

Sepanjang hari, kami, lima dari tujuh anak Abah yang ada di pulau jawa, berkumpul. Anak-mantu-cucu, bergantian menjaga Abah. Bergantian membisikan kalimat tauhid ke telinga Abah. Kakak saya yang berprofesi paramedik, bolak-balik memeriksa kondisi tensi Abah. Suhu tubuh abah tak stabil, kadang panas kadang biasa. Saya lihat ibu mengaji tak henti di sisi Abah sambil memegang tangan beliau dengan terhalang mukena. Sepanjang hari, kami juga bergantian meminumi Abah dengan air zamzam. Satu membisiki, yang lain memberi minum Abah, air zamzam sesendok sesendok.

Waktu terasa cepat. Dzuhur berlalu. Jam dua saya sempatkan diri untuk merebahkan badan, tapi tak lama, segera kembali bergabung di kamar. Tiba waktu ashar, kondisi Abah mulai mengkhawatirkan. Nafasnya cepat. Kami makin intens membisikan kalimat-kalimat tauhid. Kakak ipar saya membisikan sesuatu.

Abah ikhlas. Tepat pukul 16.15 beliau kembali ke haribaan Sang Pencipta. Tangis kami meledak. Cucu-cucu Abah semuanya meraung-raung.  Tangis kehilangan sosok yang menjadi panutan. Sosok yang mendidik kami dengan keras dan sepenuh hati. Sosok yang membekali dengan ilmu agama sebagai pondasi hidup dimanapun kami berada.

17 Ramadhan 1433 H. pukul 16.15 WIB. Hari ahad sore, tanggal 5 Agustus 2012. Tanggal kepulangan Abah untuk selamanya. Disela isak, saya melihat banyak sekali tetangga yang datang melayat. Hampir seisi kampung adalah jamaah Abah semasa Abah masih aktif sebagai guru ngaji di kampung kami. Bahkan ketika kami melaksanakan pemakaman, sekitar pukul 9 malam, saya lihat banyak sekali pengantar yang datang untuk mengantarkan Abah ke tempat istirahat abadinya.

Tugas Abah sudah selesai. Banyak sekali yang merasakan kehilangan beliau, selain kami keluarganya, para tetanggapun merasakan kekosongan yang sama. Tak akan pernah saya lupa petuah Abah tentang beliau tidak akan mewariskan harta, tapi mewariskan ilmu. Karena ilmu itu tidak berat untuk dibawa kemana-mana. Itu saya tanamkan di benak saya.

Cendol Elisabeth rupanya menjadi makanan terakhir yang disantap beliau. Dan saya beruntung bisa menyuapinya walau Cuma dua sendok saja. Saya juga  beruntung, sempat bertemu dan berbincang walau cuma beberapa kata saja. Itu tak akan pernah hilang dalam ingatan saya.

oOo

Hari ini, setahun tepat dalam hitungan kalender hijriyah, Abah beristirahat dalam keabadian. Seuntai doa saya kirim.

Khususon ila arwahi Abah H. Didin Sjamsuddin bin H. Mustopa, Alfatihah.

….

Allahumagfirlahu warhamhu waafihi wa fuanhu.

Semoga Abah bersama Mamah dipertemukan kembali di tempat yang indah. Amin. (HS)

Bdg, 25072013/16 ramadhan 1434H.

In memoriam H. Didin Sjamsuddin Bin H. Mustopa (03 Oktober 1938 – 05 Agustus 2012).

Sengaja saya tulis disini, sebagai pengingat saya bahwa saya punya Bapak yang telah mewariskan saya ilmu. Semoga ilmu yang diwariskan beliau, menjadi amalan yang mengalir untuknya. Amin. 

9 thoughts on “Setahun Kemarin: In Memoriam, Abah.

  1. 17 Ramadhan 1433 H. pukul 16.15 WIB. Hari ahad sore, tanggal 5 Agustus 2013… *ralat, mungkin 5 Agustus 2012 Kang..
    Insya Allah abah ditempatkan di tempat yang terbaik di sisi Allah SWT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s