[BookReview] Bukan Salah Waktu

Assalamualaikum…

Waduh, udah lama banget saya nggak update ya. Jangankan diupdate, sekedar ditengok aja nggak pernah. Alesannya sih selalu ada, yang sibuk dengan kerjaan lah, yang sibuk dengan pendidikan lah, dan sebagainya dan lain lain.

Nah, hari ini sepertinya kesadaran saya buat ngeblog mulai agak sedikit pulih. Saya kunjungi lagi blog saya, lalu saya buka-buka dashboardnya, dan ternyata selalu ada pengunjung walaupun gak lebih dari 30 review a day hehehe… makanya sekarang saya pengen naikin satu tulisan lagi.

Jadi beberapa minggu lalu saya dikirimi buku temen saya, salah satu admin di Kampungfiksi.com, Mbak Nastiti Deni. Nah setelah saya baca buku itu, saya jadi pengen ngereview berdasarkan sudut pandang saya sebagai pembaca. Dan inilah hasil review saya..

Selamat membaca ^_^

oOo

penampakan buku (Bukan) Salah Waktu

(Bukan) Salah Waktu. Tak ada yang salah diantara kita, kecuali masa lalu.

Tagline yang dijadikan judul tersebut cukup menggambarkan kisah Sekar dan Prabu dalam novel Karangan Nastiti Deny ini. Novel setebal 245 halaman ini merupakan naskah pilihan pemenang lomba novel “Wanita Dalam Cerita”.

Nastiti yang mengaku sebagai Ibu rumah tangga yang hobby menulis dan membaca membuka cerita (Bukan) salah waktu dengan sebuah fragmen mimpi buruk yang dialami oleh tokoh utama dalam novel ini, yaitu Sekar. Dari fragmen tersebut, kisah Sekar bergulir. Sekar adalah seorang perempuan muda yang sudah dua tahun menikah dengan pilihan hatinya, Prabu.

Sebagai seorang perempuan metropolitan, kehidupan Sekar diceritakan mengalami perubahan karena keputusannya untuk berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Mengurus rumah, memasak, mencuci, hingga mengurus keperluan suami. Namun perubahan yang diimpikannya tersebut tidak berjalan mulus. Satu per satu masalah mulai menggelayuti Sekar seiring dengan perubahan dalam hidupnya.

Diceritakan, Sekar mengalami masalah dengan masa lalunya. Sekar sepertinya mempunyai trauma psikologis terhadap masa lalu yang mengalami pernah kejadian memalukan dalam hidupnya sebagai remaja. Disamping itu, Sekar juga mengalami trauma psikologis terhadap kejadian demi kejadian yang kerap dia saksikan di rumah tempatnya tumbuh besar. Trauma demi trauma itu membuat Sekar menjadi pribadi yang tangguh.

Sekar memimpikan, bersanding dengan Prabu adalah sebuah pilihan yang tepat untuknya melepaskan satu demi satu keruwetan masa lalunya. Namun itu tidak terjadi setidaknya  pada tahun kedua pernikahannya dengan Prabu.  Sekar mendapati kenyataan yang tidak menyenangkan akan masa lalu suaminya. Sekar dan Prabu ternyata sama-sama menyimpan sebuah rahasia masa lalu. Dan itu cukup menyakitkan untuk Sekar meskipun dia digambarkan sebagai perempuan yang tegas. Hingga akhirnya rumah tangga yang belum lama mereka bina, berada dalam sebuah persimpangan yang akan hancur jika keduanya salah melangkah.

Begitulah, memang cerita ini dibuat seperti kepingan puzzle yang harus disusun ulang oleh siapapun yang membacanya. Kisah Sekar yang penuh kejutan yang membuat saya penasaran untuk terus membuka halaman demi halaman novel ini. Kejadian masa lalu Sekar, kejadian masa lalu Prabu, kemunculan tokoh Bram, Larasati, Wira, serta Rei merupakan kepingan-kepingan puzzle yang menunggu pembaca untuk direkonstruksi. Bagaimana kisah Sekar dan Prabu selanjutnya? Anda bisa membaca cerita ini dalam Novel (Bukan) Salah Waktu.

Penilaian saya terhadap cerita ini cukup asyik dan menarik untuk dibaca di kala senggang. Nastiti sebagai pengarang cerita ini berhasil membuat saya penasaran dengan adegan melompat-lompat dari masa kini ke masa lalu kembali lagi ke masa kini. Pun dengan kemunculan tokoh Bram dan Laras, serta Rei yang digambarkan hanya satu dua adegan namun mempunyai keterhubungan antara dua tokoh utama dalam Novel ini. Sayangnya, Nastiti kurang berhasil mendeskripsikan bagaimana sosok rupa Sekar dan Prabu secara fisik, serta kurang berhasil mengeksplorasi trauma psikis yang dialami Sekar.

Menurut saya, penyebutan barang-barang branded termasuk menyebut mobil mewah bermerk binatang buas, agak menegaskan bahwa kisah ini memang benar-benar fiksi. Selain itu, saya mempersoalkan tentang Prabu atau Bram yang sudah menjadi eksekutif muda di usia yang relatif hampir sama dengan usia saya saat ini. Bagi saya itu agak kurang membumi, sih. Tapi mungkin ada alasan lain bagi Nastiti yang memang sedang bercerita tentang kehidupan kaum urban metropolitan. Dan yang jelas, ini adalah kisah fiksi. Jadi sah-sah aja bagi siapapun untuk menulis sebuah cerita dengan alur dan latar demikian.

Ini adalah kali kedua Admin Komunitas Kampung Fiksi berhasil menelurkan karya solo. Sebagai informasi, Nastiti Denny adalah salah seorang pentolan admin komunitas Kampung Fiksi, dan ini merupakan novel solo perdananya disamping beberapa buku kumpulan cerpen dan antologi. Novel terbitan Bentang Pustaka ini sudah tersedia di toko buku terdekat, dengan banderol harga di kisaran empat puluh ribu rupiah. Saya sih merekomendasikan anda sekalian untuk membaca “(Bukan) Salah Waktu” ini karena selain cerita yang menarik,  ada hal menarik lainnya yakni sebuah pelajaran hidup tentang bagaimana caranya untuk bersikap sabar dan tidak meledak-ledak ketika menghadapi permasalahan. (HS)

BDG24012014

4 thoughts on “[BookReview] Bukan Salah Waktu

  1. 35 tahun lho usia dirut IBM Indonesia, hahaha… great review. Terus terang, sbg sesama perempuan, gw suka sikap Sekar yang menurut gw sangat cool, level headed. Penggambaran kedua laki-laki, Prabu dan Bram juga terasa pas bagi gw. Prabu memang harus lebih pasif, Bram lebih agresif karena motivasinya. Yang gw rasa kurang dieksplorasi adalah persahabatan Sekar, Sisi dan Miranda. Lalu, Miranda itu lho…kasian dibiarkan begitu saja, hahaha… *pembaca cerewet amat, banyak maunya*😄.

    • hahahahaha…. miss G ternyata komen di blog gw. dan gw baru buka blog ini setelah sekian lama hibernasi wkwkwkwk… heeh, ternyata bos IBM muda banget. beda dua taun ama gw wkwkwkwk.
      heeh ih, toss… kita ini pembaca super duper cerewet wkwkwkwkwkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s