Pembunuhan Sara dan Krisis Moral di Negeri Kita

Assalamualaikum… (gaya emak gaoel)

Sudah lama sekali saya tidak memperbaharui blog ini. Dan sekarang saya sedang eling pengen meng-update dan menuangkan pendapat hasil pemikiran saya selama nongkrong pagi-pagi di kamar mandi hehehe. Opini ini lahir karena dua hari ini saya membaca berita tentang peristiwa yang mengerikan. Berita apa itu? Klik saja link ini.

Membaca berita terbaru beberapa hari ini membuat saya bergidik ngeri. Dua orang remaja yang belum genap berumur 20 tahun, tega melakukan pembunuhan keji hanya gara-gara permasalahan asmara segitiga. Tersangka pembunuh merupakan mantan pacar korban dan pacar barunya. Menurut beberapa berita yang saya baca, mereka terlibat hubungan asmara segitiga sejak jaman SMU.

foto capture dari http://news.liputan6.com/

(Photo diambil dari link http://news.liputan6.com/)

Dalam beberapa berita, disebutkan bahwa pelaku menghabisi nyawa korban karena alasan sepele. Diputusin korban. Beberapa kali minta untuk ketemu, si korban tidak pernah mau dan tidak pernah menanggapi hingga akhirnya, pacar pelaku berhasil mengajak ketemu dan membawa korban berkeliling Jakarta. Dua pelaku membunuh korban dengan cara disetrum dan disumpal mulutnya dengan menggunakan Koran pada saat pingsan hingga menutup jalan nafas. Polisi menemukan adanya Koran di tenggorokan korban.

Saya tidak ingin panjang lebar menceritakan kronologisnya. Saya hanya ingin menyoroti mengapa kejadian seperti ini bisa berulang. Belum lekang dari ingatan mengenai peristiwa pembunuhan sadis seorang manajer cantik di Bandung, yang menyita perhatian publik karena pembunuhan terjadi pada bulan Ramadhan. Kemudian pembunuhan seorang mahasiswi yang dihanyutkan di sungai di daerah Bogor, tak berselang lama setelah kasus manajer cantik tersebut. Saya jadi bertanya-tanya apakah  ini menunjukkan gejala bahwa terjadi dekadensi moral di negeri ini?

Membaca beberapa komentar dari status seorang petinggi sebuah surat kabar, sepertinya memang telah terjadi kemunduran dan kemerosotan moral yang terjadi pada anak bangsa ini. Entah apa yang salah. Yang jelas, moral kaum muda sekarang tidak sama dengan moral generasi sebelumnya. Saya berpendapat, jangan-jangan kasus pembunuhan yang dilakukan dua orang remaja yang belum genap berumur 20 tahun ini karena kebanyakan nonton sinetron atau tayangan-tayangan televisi yang banyak mengandung unsur kekerasan?

Kita tahu sendiri bahwa sinetron dan tayangan televisi Indonesia saat ini sudah jauh dari nilai-nilai yang memberikan tuntunan. Adegan caci maki, bullying, dan kekerasan (walaupun itu dikemas dalam bentuk komedi) secara tidak langsung telah merasuk ke dalam kebudayaan Indonesia yang katanya ramah dan santun. Tontonan-tontonan tersebut sangat membahayakan apabila ditonton oleh kalangan awam yang belum bisa membedakan antara realita dan imajinasi. Dua pelaku remaja pembunuh bisa jadi terilhami tayangan yang mereka tonton. Secara tidak langsung, adegan demi adegan kekerasan merasuk ke dalam otak mereka, dan mereka cerna sebagai sesuatu yang lazim dan wajar untuk dilakukan. Opini ini saya kemukakan berdasarkan kenyataan bahwa pasca kejadian, kedua pelaku seolah-olah tidak merasa bersalah dengan memposting kicauan mereka di twitter dan melayat ke rumah duka.

Saya tidak tahu bagaimana latar belakang kedua pelaku sebelumnya. Apakah mereka dibesarkan di lingkungan yang penuh dengan krisis ataukah mereka terbiasa dengan tontonan yang tidak layak dikonsumsi oleh anak-anak seusia mereka.

Misalnya memang mereka dibesarkan di lingkungan yang penuh dengan kasih saying dan pendidikan yang baik. Tetap saja ternyata itu tidak cukup. Ternyata tontontan yang mereka lihat, ataupun games yang mereka mainkan yang mengandung unsur kekerasan, masuk secara perlahan-lahan ke dalam otak mereka. Sehingga akhirnya mereka terhabituasi dengan kekerasan seperti itu. Mereka menjadikan kekerasan menjadi sesuatu yang tidak lagi tabu untuk dilakukan terhadap sesama manusia. Tentang bagaimana otak terhabituasi, analoginya bisa dibaca di link ini.

Bayangkan saja di usia 19 tahun, disaat remaja seusia mereka seharusnya berkarya dengan kegiatan positif, kedua pelaku ini sudah mempunyai otak kriminal untuk membunuh mantan pacar dengan cara sadis. Pastilah ada yang salah dengan keduanya. Alasan khilaf rasanya sudah tidak lagi masuk akal.

Di luar itu, ada faktor utama yang sangat berpengaruh terhadap merosotnya moral bangsa ini. Itu  tidak lain adalah sistem pendidikan kita. Tidak ada lagi pendidikan moral yang mengajarkan cara bersopan santun terhadap sesama, tidak ada lagi pendidikan budi pekerti yang mengajarkan etika.

Jaman saya sekolah dulu, saya masih mendapatkan materi pelajaran pendidikan moral pancasila (PMP) di sekolah dasar selama enam tahun. Pendidikan moral seperti ini sangat penting diterapkan dalam system pendidikan negeri ini. Diakui atau tidak, Pendidikan Moral Pancasila memberikan dampak positif terhadap perkembangan anak, setidaknya bagi anak-anak seangkatan saya waktu itu. Ada pendidikan budi pekerti yang terkandung dalam mata pelajaran tersebut, seperti bagaimana caranya berlaku sopan santun terhadap orang tua, guru, terhadap sesama teman. Budi pekerti ini menjadi salah satu faktor  penting dalam membentuk kepribadian seseorang.

Saya pernah membaca satu artikel tentang system pendidikan di luar negeri. Australia atau Jepang, kalau tidak salah, menerapkan system pendidikan moral dengan porsi yang lebih besar dibandingan mata pelajaran akademik lainnya pada grade pendidikan dasar. Menurut mereka, membentuk perilaku seorang manusia itu membutuhkkan waktu yang lebih lama tinimbang mempelajari matematika atau fisika. Tidak heran kalau pada akhirnya mereka mempunyai kebiasaan yang jauh lebih baik ketimbang negeri kita.

Sudah saatnya pemerintah membenahi sistem pendidikan kita. Kemerosotan moral yang terjadi di tengah-tengah bangsa ini bisa saja berawal dari lemahnya pendidikan moral yang diberikan kepada generasi muda.

Sudah saatnya system pendidikan negeri ini independent. Bebas dari campur tangan politik. Kurikulum yang selalu menjadi alasan untuk diperbaharui, seharusnya terbebas dari kepentingan politis pejabat tinggi negeri ini.

Saya yakin, apabila sistem pendidikan kita mampu berbenah, akan banyak dampak yang dihasilkannya. Tidak hanya moral dan budi pekerti saja. Tapi segala aspek kehidupan di negeri ini akan jauh lebih baik dari saat ini.

Last, saya mengucapkan turut berbela sungkawa terhadap mendiang Ade Sara Angelina Suroto (19) yang menjadi korban dalam peristiwa pembunuhan keji di Jakarta.

Saya juga berbela sungkawa atas hilangnya nurani dan akal sehat serta budi pekerti di sebahagian negeri ini. Semoga Tuhan bersama kita.

Wassalam. (HS)

Kampusstialan2014

2 thoughts on “Pembunuhan Sara dan Krisis Moral di Negeri Kita

  1. Baru tahu ada kasus ini…

    Pastinya memang ada yg salah dgn pelaku pembunuhan ini, ada yg salah dgn sistem pendidikan kita, dan juga ada yg salah dgn masyarakat kita….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s