Dua Tahun berlalu: Memori Ramadhan Bersamamu

 

Dua tahun berlalu.. semoga engkau mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya. Amin.

Masih belum lekang dalam ingatan saya, pertengahan Ramadhan dua tahun yang lalu. Seorang anak manusia yang  telah memasuki usia sepuh, terbaring dengan mata terpejam. Beliau adalah sosok yang telah menjadikan saya serta saudara-saudara saya yang lain menjadi seperti sekarang. Beliau adalah sosok yang mendidik  kami dengan tegas dan penuh disiplin, sosok yang pada masa mudanya adalah pekerja keras, sosok yang menyayangi kami namun tidak pernah terlihat cengeng menunjukkan rasa sayangnya. Saat itu kami, lima dari tujuh bersaudara, beserta ibu kedua kami, berkumpul di ruang kamar yang tidak terlalu luas itu. Bergantian membisikan kalimat-kalimat tauhid. Bergantian melantunkan ayat suci di samping beliau. Bergantian memegang tangannya agar tidak terlepas barang sedetikpun dari genggaman kami. Bergantian meneteskan air zamzam agar tidak merasa haus. Saat itu, kami tidak tahu apa yang akan terjadi. Kami berkumpul dan berdoa memohon yang terbaik untuk beliau. Dalam kondisi puasa dalam bulan Ramadhan 1433 H waktu itu, kami berdoa untuk memohon kepada Sang Maha agar memberikan yang terbaik bagi beliau.  Satu dua orang tetangga datang bergantian untuk menengok dan turut berdoa untuk orang yang kerap kami panggil Abah tersebut.

bapak dikelilingi anak mantu cucu - HS.2010

Abah dikelilingi para cucu, pada Lebaran 2010 lalu- HS.2010

oOo

Abah, begitulah beliau dipanggil semenjak punya cucu. Sepanjang usia hidupnya, Abah adalah seorang yang dekat dengan Sang Pencipta. Bacaan Alqur’an senantiasa dikhatamkan apabila bulan Ramadhan tiba. Ketika terbangun dari tidurnya pun, bisa dipastikan bahwa jam dinding masih menunjukkan jam dua dini hari. Abah (dan juga ibu) akan segera mandi air hangat dan berwudhu untuk kemudian shalat tahajud hingga menjelang waktu Subuh. Aneka doa mereka panjatkan untuk kami putera-puterinya. Kemudian setelahnya Abah akan beranjak untuk mengimami shalat subuh berjamaah di mesjid dekat rumah kami. Banyak sekali pelajaran yang tidak terasa beliau tanamkan kepada kami. Beliau mendidik kami, tujuh orang anaknya, dengan pendidikan yang berfondasikan ajaran agama. Kami diajari untuk hidup sederhana. Kami diajari untuk hidup jujur. Kami diajari untuk selalu dekat dengan Sang Maha Pencipta melalui pelajaran-pelajaran ibadah yang diberikan Abah kepada kami semua. Saat ini kami mulai sadar bahwa mendidik anak bukanlah perkara yang gampang. Setiap waktu shalat, abah mengajak kami untuk shalat berjamaah. Masuk waktu maghrib dan Isya, beliau akan memerintahkan kami untuk tidak beranjak dari ruang loteng yang dijadikan madrasah untuk belajar membaca Alqur’an bersama puluhan anak tetangga lainnya. Apabila subuh tiba, kami akan dipaksa untuk bangun dan shalat shubuh berjamaah di Mesjid yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Lagi-lagi bersama anak tetangga yang turut mengaji di rumah kami, setelah shalat subuh, kami diajari berbagai kajian dari kitab kuning. Safinah, Zurumiah, dan Tizan, adalah tiga kitab kuning yang saya ingat pernah diajarkan Abah kepada kami. Walaupun waktu itu otak kanak-kanak kami belum memahami apa isi dan makna tiga kitab kuning tersebut, namun Abah berulang kali meyakinkan kami, murid mengajinya, bahwa suatu saat kami akan paham dengan apa yang kami pelajari saat itu. Memang, bisa dibilang, Abah adalah guru mengaji yang mempunyai jamaah di tingkat RW kami. Murid mengajinya sudah lintas generasi. Mulai dari ibu-ibu, anak si ibu, sampai si anak ibu tersebut punya anak lagi, juga turut mengaji di rumah Abah. Apabila Ramadhan tiba, seingat saya, ketika kami masih kanak-kanak kami akan diajak Abah untuk ngabuburit. Bukan main gembiranya kami diajak jalan-jalan ke jalan raya. Abah tahu, perut kecil kami waktu itu sudah meronta-ronta minta diisi. Namun demi menanamkan nilai dan arti penting ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, maka Abah akan meluangkan waktunya mengajak anak-anak kecilnya berjalan-jalan ngabuburit ke pasar malam. Kami pun lupa bahwa perut kami lapar. Kami bahagia sekali ketika Abah membelikan kami masing-masing satu cup ice cream woody. Ice cream yang tidak begitu mahal, namun cukup populer saat itu. Kadang, ketika ngabuburit tidak ke pasar malam, Abah cukup membawa kami berputar-putar dengan mobilnya keliling kota, mungkin ini adalah usahanya untuk mengalihkan perhatian kami dari rasa lapar di jam-jam rawan anak kecil merengek minta buka. Kemudian kami akan kembali berada di rumah sekitar setengah jam sebelum berbuka. Kami yang sudah bahagia dengan ngabuburit sambil membawa es wodi (begitu kami menyebut ice cream tersebut), akan segera berkumpul menyiapkan makanan menu buka. Masing-masing dari kami berkumpul dan membawa piring masing-masing serta memisahkan makanan yang dapat kami santap ketika berbuka puasa nanti. Setiap anak mendapatkan bagian yang sama. Tanpa kami sadari, ternyata kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah cara Abah untuk mendidik kami supaya menjadi saudara yang kompak. Begitu beduk bertalu, suara adzan maghrib bergema, kami akan segera berbuka. Itu adalah saat-saat yang terasa meriah, meskipun sebenarnya menu buka puasa kami bukanlah makanan yang luar biasa. Sebagai seorang PNS yang juga petani, kadang Abah membawa hasil bumi dari sawah/kebun kami. Hasil bumi itulah yang diolah menjadi makanan lauk menu buka. Sayur jantung pisang, sayur kecipir, atau sayur asem melinjo adalah salah satu dari beberapa menu buka puasa kami yang berasal dari hasil tani beliau. Buka puasa menjadi meriah karena Abah berusaha menyiapkan aneka sajian. Selain sayur tersebut, abah akan menyiapkan gorengan tempe, atau tahu, dan ikan. Jadi menu karbohidrat, serat, dan protein kami tercukupi. Abah juga akan memerintahkan kakak sulung saya, yang memang mewarisi bakat pandai memasak Mamah, untuk membuat kolak sebagai menu yang wajib ada untuk tajil kami. Lagi-lagi, pisang nangka yang dijadikan kolak tersebut adalah hasil dari sawah Abah. Jika bosan dengan kolak pisang, Abah akan membawa kolang kaling dari pasar untuk dibuatkan kolak sebagai menu tajil. Lain hari, abah akan membuat es timun suri. Atau memasuki pertengahan Ramadhan, Abah akan membawa kurma yang dibeli dari jalan raya. Dulu, kurma adalah makanan yang sangat jarang, tidak seperti sekarang yang bisa didapat dengan gampang. Maka kami akan sangat senang ketika Abah menyediakan kurma sebagai menu tajil, karena tidak semua orang bisa menikmati buah kurma yang sudah diawetkan jadi manisan itu. Begitu adzan, kami tidak boleh langsung makan. Abah mengajarkan kami untuk berbuka dengan tertib. Tajil dan makanan ringan boleh mengisi perut kecil kami waktu itu. Kemudian kami akan diajak shalat berjamaah, di ruangan yang tidak jauh dari ruang makan. Selesai shalat maghrib berjamaah, barulah kami diperbolehkan makan berat. Lalu selesai makan, kami akan segera diajak bersiap-siap untuk taraweh ke mesjid. Ini adalah saat-saat terberat buat saya karena harus ikut taraweh dengan jumlah rakaat yang cukup banyak. Tapi Abah tidak mempermasalahkan berapa rakaat yang kami ambil saat taraweh tersebut, yang penting, anak-anak kecilnya ini ikut ke mesjid. Selesai taraweh, Abah tidak langsung pulang, tapi berkumpul dulu dengan para jamaah tarawehnya. Sekalian mengawasi saya dan kakak laki-laki saya yang diharuskan ikut membaca alquran secara tadarus. Pukul Sembilan lebih sekian, barulah kami boleh berada di rumah kembali dan harus segera tidur karena pukul tiga dini hari Abah akan membangunkan kami, anak-anak kecilnya, untuk ikut sahur bersama-sama. Belum ada siaran televisi seperti sekarang pada saat itu. Kami sahur ditemani keheningan, dan paling banter, siaran radio lokal yang cukup menghibur kami yang harus menahan kantuk. Disela-sela makan sahur, Abah sering sekali mengingatkan kami untuk membaca niat puasa biar puasanya kuat, begitu katanya. Setelah sahur, tidak ada yang boleh tidur lagi. Kami diajak ke mesjid untuk shalat subuh berjamaah, dan baru boleh pulang setelah kami ikut kegiatan kuliah subuh yang diisi dengan ceramah oleh ustad-ustad setempat serta beberapa teman Abah yang sengaja diundang untuk menjadi penceramah tamu. Begitulah, hari-hari Ramadhan kami diisi dengan kegiatan keagamaan yang menjadi salah satu warisan Abah yang tak ternilai. Pendidikan Agama menjadi fondasi hidup kami. Kemanapun kami melangkah sekarang, Alhamdulillah, apa yang Abah ajarkan tidak pernah kami tinggalkan. Shalat, puasa, zakat dan shodaqoh, adalah hasil didikan Abah yang cukup melekat pada diri kami.

oOo

abah

Alm. Abah di masa sepuhnya (HS.2009)

Dua tahun lalu, ternyata adalah Ramadhan terakhir Abah. Beliau yang kembali jatuh sakit sebelum bulan Ramadhan tiba, bersikeras untuk mengikuti ibadah puasa. Padahal setiap waktu sahur, abah tidak makan banyak. Hanya air putih, dan beberapa kunyah makanan. Begitupun waktu buka, tidak ada kemeriahan yang pernah beliau rasakan ketika kami kanak-kanak, karena saat itu kami sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Saya sendiri waktu itu sudah beralih tugas ke Bandung. Kakak-kakak saya pun demikian, setelah berkeluarga, semuanya tinggal di rumahnya masing-masing. Bahkan dua kakak saya ada yang menetap di luar pulau Jawa. Menjelang hari-hari terakhirnya, Abah terlihat lebih bersih. Ini saya lihat ketika pertengahan Ramadhan dua tahun lalu, saya menyengajakan diri untuk mudik. Padahal, sebelumnya saya sudah berniat untuk tidak mudik selain menjelang idul fitri. Namun Sang Maha Kuasa menggerakan saya untuk menengok kondisi Abah yang tengah sakit. Saya sempat bertemu beliau sehari sebelum kepergiannya. Sempat berbincang dan memperlihatkan baju koko putih yang sengaja saya beli sebagai hadiah lebaran saya untuk beliau. “Cukup ieu mah. Ukuranna pas. (cukup kayaknya, ukurannya juga pas)” Begitu kata Abah ketika saya memperlihatkan baju koko putih yang saya beli. “Teu boga duit mah, teu kudu bula beuli. Keunbae. (kalau belum punya uang, jangan maksain beli ini itu)” Demikian Abah berujar ketika saya mengutarakan bahwa saya belum mampu membelikan apa yang Abah inginkan karena saat itu kondisi keuangan saya morat marit karena baru saja pindah tugas. Saya juga menyempatkan memaksa Abah untuk berbuka puasa saat itu. “Kan saur Abah ge, orang sakit mah meunang buka puasa. Rukhsoh. (kan kata Abah juga, orang yang sedang sakit itu boleh berbuka puasa. Rukhsoh/keringanan)” Abah pun nurut. Dua sendok cendol Elizab*th yang dibeli kakak saya di Pasar Baru Bandung, adalah makanan terakhir yang Abah nikmati. Saya beruntung bisa menyuapi Abah saat itu, Karena kemudian sekitar dua puluh empat jam setelahnya, Abah kembali ke haribaan Sang Pencipta. Menjelang detik-detik kepergian Abah, keesokan hari setelah saya berbincang dengan beliau, kami berkumpul di kamar dimana Abah terbaring. Satu persatu dari kami berganti-gantian membisikan kalimat tauhid. Kami berupaya mengawal Abah agar tidak terlepas sedetik pun dari Allah SWT. Satu orang menggenggam tangannya. Satu orang meneteskan air zamzam. Satu orang membisikan kata Allah berulang-ulang. Dan yang lain membacakan Alquran bersama ibu. Nafas Abah makin tersengal-sengal. Kami berusaha seikhlas mungkin melepas sosok tegas yang kelak ternyata saya rindukan kehadirannya. Abah pergi dengan tenang, tepat menjelang malam nuzulul qur’an 17 Ramadhan 1433 H atau 12 Agustus 2012. Selamat jalan Abah. Semoga tempat yang indah untukmu saat ini dan berkumpul kembali bersama Mamah disana. Amin…

Yaa-ayatuhannafsul muthmainnah. irji’i ila robbiki rodhiyatam mardiyyah. Fadhuli fii ibadi. wadhuli jannati

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku”

(QS. Alfajr: 27-30). Bandung, 15 ramadhan 1435 H/13 juli 2014 (HS)

Tulisan ini dibuat untuk memperingati dua tahun wafatnya Ayah saya. Ayah yang baru saya sadari ternyata beliau luar biasa. multitasking. Ayah yang selalu saya-menyangkal-merinduinya, padahal saya memang selalu merindukannya.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s