Pemimpin itu…

Assalamualaikum wr wb

Kayaknya baru kemaren ya kita lepas dari hiruk pikuk pemilu yang membawa efek unfriend-unfriend-an temen facebook. Sekarang  situasi politik lagi memanas tentang ‘keberhasilan’ DPR mengesahkan UU Pilkada. Efek pemilu yang kemaren pun kembali terulang. Saling sindir di facebook, dan saling serang, antara ‘rakyat’ yang pro dengan pilkada langsung, dan ‘rakyat’ yang pro dengan hasil pengesahan UU pemilihan Kepala Daerah melalui mekanisme DPRD.

Tadi malem, anggota Dewan yang baru saja dipilih juga sudah langsung membuat kehebohan ketika memilih pemimpin yang akan mengetuai mereka di gedung wakil rakyat tersebut. Rupanya kehebohan di senayan juga merembet ke kehebohan di dunia maya dengan melahirkan hashtag #saveceupopong. Ceu popong adalah pimpinan sidang anggota dewan dalam menentukan pemilihan ketua DPR, beliau dipilih karena dianggap sebagai anggota DPR tertua di antara seluruh anggota DPR yang ada. Hashtag #saveceupopong ini masih ramai bertebaran hingga keesokan harinya. #saveceupopong menjadi menarik karena dalam proses pemilihan Pimpinan di DPR yang diwarnai kericuhan ini, Ibu Popong Otje Djundjunan mampu memimpin sidang hingga dini hari, meskipun harus diwarnai banyak interupsi.

Baik kasus RUU Pilkada, maupun kasus #saveceupopong, jika ditarik benang merah, keduanya memiliki kesamaan. Yakni sama-sama terkait dengan pemilihan PEMIMPIN. Memang, memilih pemimpin itu bukan perkara mudah. Ada banyak kepala yang menginginkan kriteria tersendiri dalam memilih seseorang untuk menjadi pimpinannya.  Makanya setiap orang akan mempertahankan pendapatnya agar pimpinan yang sesuai dengan kriterianya, bisa memimpin kelompoknya. Dan hendaknya ketika orang sudah dipilih untuk menjadi pemimpin, maka orang tersebut harus mampu melipatgandakan tanggung jawabnya untuk mengelola orang-orang yang dia pimpin. Mengelola itu kunci dari ilmu manajemen.

Leader (Gambar dari Shutterstock photo)

Berbicara tentang menjadi pemimpin, ada baiknya kita sedikit belajar tentang kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi pemimpin. Siapa tau ada di antara kita yang akan menjadi pemimpin, atau malah sudah duduk di kursi jabatan di kantornya. Yaaa mau tidak mau harus belajar mengenai seni kepemimpinan.

Menurut dosen saya, menjadi seorang pemimpin itu bukanlah perkara yang mudah. Tanggung jawab yang dia emban adalah tanggung jawab dunia akhirat. Meskipun hanya memimpin lima atau enam orang dalam unit kerjanya, tanggung jawabnya akan tetap sama dengan memimpin seratus orang. Intinya menjadi pemimpin itu harus BERTANGGUNG JAWAB.

Itu yang pertama. Yang kedua, masih kata dosen saya, menjadi pemimpin itu harus mempunyai KECERDASAN EMOSIONAL. Jangan ambekan untuk hal-hal yang seharusnya diketahui dan seharusnya benar.  Dan jangan ambekan ketika dikasih tau bawahan, gak mungkin bawahan ngasih tau sesuatu yang sifatnya salah. Kecuali emang bawahannya ingin menjerumuskan. Menurut penelitian, kecerdasan emosi ini menentukan keberhasilan kinerja seseorang hingga mencapai 80%, sedangkan IQ hanya 20% saja. Itu penelitian dari Profesor Daniel Dorbman (atau siapa gitu lah spellingnya kurang paham). Nah kata pak dosen, selain kecerdasan emosional, seorang pemimpin itu juga harus memiliki kecerdasan lainnya. Setidaknya ada lima kecerdasan yang harus dimiliki oleh seorang yang sudah menjadi atau akan menjadi pemimpin. Ya baik pemimpin di rumah, di kantor, pejabat esselon I, II, III, bahkan pejabat esselon IV sekalipun. Kecerdasan yang harus dimiliki mereka ini adalah:

IQ

Sudah pada tau kan, IQ itu apaan. Intinya IQ ini kecerdasan intelijensia. Tadi sudah disebutin, IQ ini hanya ngaruh sebesar 20 % saja terhadap kinerja seseorang.

EQ

Nah, EQ ini adalah kecerdasan emosional yang tadi sudah disinggung-singgung. EQ ini akan mempengaruhi kinerja seseorang pemimpin hingga 80%. Menurut pak dosen saya, ketika seseorang memiliki EQ yang kecil alias TIDAK CERDAS SECARA EMOSIONAL, maka dapat dipastikan bahwa dia memiliki SQ, MQ, dan AQ yang rendah.

Ciri-ciri orang yang punya EQ bagus itu, begini (kata pak dosen ya)

Yang pertama punya Self awareness. Artinya kesadaran yang tinggi yang bekerja. Jadi orang mengetahui hakikat bekerja untuk apa. Itu self awareness. Ini tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin. Jadi kata kalo kita sudah punya self awareness, artinya akan meniatkan bekerja sebagai IBADAH. BEKERJA BUKAN KARENA ATASAN.

Yang kedua adalah self management.  Seorang pemimpin harus memiliki konsep empat M. yakni Menerima diri, Memahami diri, Merealisasi diri, dan Mengendalikan diri. Tentang memahami diri, pak dosen saya bilang, kita harus paham bahwa kita punya KELEMAHAN, tapi kita juga harus yakin bahwa kita punya potensi yang bisa dikembangkan. Jika seseorang masih belum bisa menerima dirinya, secara fisik, maka pasti dia tidak akan pernah bisa percaya diri. Begitu katanya. Terus, jika dia tidak bisa menerima dirinya, maka Tuhan akan marah besar, karena kita adalah milik Tuhan. Nah, orang yang cerdas secara emosi, dia akan mampu me-manage dirinya dengan baik. Tidak bergantung kepada orang lain. Tidak marah-marah yang tidak jelas, tidak ujug-ujug ambekan, dsb.

Yang ketiga, self motivation. Artinya seorang pemimpin itu harus punya motivasi untuk membawa unit kerja atau organisasinya berhasil. Dia harus bisa menjadi pemimpin yang efektif agar bawahannya bisa bekerja dengan baik. Pemimpin yang efektif itu adalah pemimpin yang ketika memberikan tugas kepada bawahan, dan bawahannya merasa senang untuk melakukannya.

Yang keempat adalah self relationship. Seorang pimpinan harus mampu membangun hubungan relationship yang harmonis. Baik itu di rumah, maupun di kantor. Harus mau berkoordinasi. Jangan hanya mau didatangi saja. Apalagi ketika baru menjabat, koordinasi menjadi hal yang penting agar bisa belajar dari pengalaman orang lain.

Yang kelima adalah social awareness. Artinya seorang pimpinan itu harus memiliki kepedulian terhadap orang lain. Misalnya melihat anak buah sibuk tapi sudah masuk jam makan siang, mbok ya ditanya anak buahnya, udah makan apa belum. Jangan Cuma bisa nyuruh nyuruh atau nanya nanya tanpa mikirin kesehatan anak buahnya. Atau misalnya jam kerja sudah lebih dari seharusnya alias lembur, mbok ya langsung ditawarin mau makan apa atau mau snack apa. Kerja itu, walaupun Cuma di belakang meja, menguras tenaga dan pikiran loh!

 

Hah… baru cerita dua hal aja udah panjang begini. Yang tiga lagi, SQ, MQ dan AQ diceritain lain pada postingan selanjutnya deh. Biar ada bahan mau ngomongin apa di postingan selanjutnya. Lol

 

Pokoknya ya, kalo sudah jadi pejabat, jangan lupakan teman. Jangan berubah keterlaluan. Jangan jaim naudubillah. Soalnya jabatan mah bukan apa-apa. Ibarat baju, bisa dicopot dan diganti sesuka hati. Begitu.

 

Udah ah, mau ashar dulu…

 

Wassalam

 

Mejakantor-03102014

 

E iya, baru inget, tanggal 3 oktober itu hari lahir Abah saya. Semoga Abah tenang dan bangga di sana. Amiin.

2 thoughts on “Pemimpin itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s