Awal Ramadhan 1434 H

Saya pernah menulis di kompasiana (dan jadi HL pula waktu itu) bahwa kalender hijriyah akan mengalami percepatan sebelas hari setiap tahunnya dikarenakan bahwa tahun islam berpatokan pada rotasi bulan terhadap bumi.  Itulah kenapa bulan islam akan selalu jatuh pada tanggal yang berbeda setiap tahunnya pada kalender masehi.

Ketika tulisan ini dibuat, menteri agama sedang membacakan keputusan sidang itsbat yang memutuskan bahwa awal Ramadhan 2013 atau tahun 1434 H jatuh pada hari rabu 10 Juli 2013. Keputusan ini didasari pada hasil ru’yat bahwa hilal, atau bulan baru, belum terlihat. Setiap tahun, seingat saya, selalu dilaksanakan sidang itsbat seperti ini untuk menentukan kapan bulan Ramadhan dimulai dan kapan ramadhan berakhir atau untuk menentukan 1 syawal.

Sepertinya hanya di Indonesia saja awal Ramadhan menjadi isu sensitif.  Bahwa di Indonesia ada perbedaan dalam penentuan Ramadhan dan Syawal di setiap tahunnya. Ini kemungkinan besar terjadi karena banyak sekali ormas islam dan aliran-aliran jamaah (yang mengatasnamakan islam) yang memiliki keyakinan berbeda dalam menentukan awal ramadhan.

Padahal, nih ya, pemerintah selaku ulil amri menurut saya adalah satu-satunya lembaga yang berhak mengumumkan kapan ramadhan dimulai berdasarkan perhitungan, yang saya yakin, tidak sembarangan. Dan sebagai umat islam, kita agaknya harus patuh pada keputusan pemerintah tersebut.

gambar diambil dari katakata-mutiara.com

Baca lebih lanjut

Iklan

Beda Jaman Beda Permainan

Saya masih ingat ketika saya zaman Sekolah Dasar dulu. Hampir setiap sore saya dan saudara-saudara saya menghabiskan waktu bermain di luar. Bersama teman-teman, kami anak-anak kampung selalu berkumpul sekitar habis ashar hingga menjelang maghrib. Tidak sekedar berkumpul, kami yang berusia hampir sebaya selalu terlibat dalam permainan-permainan tradisional kala itu. sungguh, sebuah moment yang indah untuk dikenang.

Permainan tradisional yang kami mainkan, sangat banyak. Anak laki-laki perempuan, tergabung dalam grup. Campuran setiap grupnya. Permainannya pun variatif. Media yang digunakannya pun sangat sederhana, mulai dari batu sampai karet gelang.

Ya, permainan-permainan sederhana itu pun bernama sederhana. Sebut saja, Bancul. Permainan ini hanya menggunakan media batu kali sebesar genggaman tangan, dan batu yang agak besar yang bisa di simpan pada posisi “berdiri”. Kami akan bergantian menembak batu berdiri tersebut dengan batu-batu kecil milik kami. Jika batu berdiri tersebut roboh, maka kami akan saling menembak batu-batu kecil milik teman-teman yang lain. peraturannya lebih mirip permainan kelereng.

Gatrik. Permainan tradisional jaman dulu yang menggunakan media bambu. Sebilah bambu agak panjang sekitar 40 cm dan sebilah bambu pendek sekitar 10 cm menjadi alat utama permainan ini. sebelumnya kami membagi dua grup. Grup pemain dan grup penjaga. Grup pemain akan berusaha menepak bambu pendek sejauh mungkin yang sudah dilempar ke arahnya oleh penjaga. Kemudian jika regu penjaga tidak dapat melempar balik untuk mengenai bambu panjang, maka anak-anak grup pemain akan memainkan bambu kecil tersebut dengan cara menyeretnya sejauh mungkin. Setiap seretan ditandai dengan satu tepakan. Hingga mati langkah. Grup yang kalah akan dikenai hukuman.

Atau ada lagi, sondah. Medianya hanya tanah (lantai)  yang digambari dengan pola berbentuk kotak tertentu. Kemudian digunakan potongan genteng untuk menandai kotak tersebut dengan cara melemparnya dari luar area kotak. Pemain ini bisa dilakukan perorangan atau berdua dalam satu tim. Siapa yang lebih cepat melempar potongan genteng ke kotak terjauh, maka dia adalah pemenangnya.

Congklak. Menggunakan sebuah papan berlekuk tujuh kanan kiri. Diisi batu sebanyak tujuh biji setiap lekukannya. Kemudian dimainkan dengan cara memindahkan batu kecil tersebut ke setiap kotak lakukan secara bergantian. Pemenangnya adalah anak yang mengumpulkan batu lebih banyak di lakukan besar. Dalam salah satu tulisan Ibn Ghifarie berjudul “Hari Anak dan Kaulinan Baheula” yang dimuat di kompasiana edisi hari senin, 26 juli 2010, permainan congklak ini mengandung filosofis yang teramat dalam. Dalam tulisannya Ghifarie memberikan keterangan : “Permainan congklak juga memiliki makna perjuangan yang dilakukan seorang manusia tiap harinya. Tujuh lubang menandakan jumlah hari dan satu gunung menandakan lumbung. Jadi, setiap hari seseorang mengumpulkan satu batu hingga penuh. Setelah penuh, batu atau benda tersebut dipindahkan ke lumbung untuk ditabung atau dibagikan kepada yang membutuhkan.”

Lompat tali. Ah rasanya saya tidak perlu bercerita tentang permainan ini. Hampir semua dari kita pernah memainkannya, iya kan?

salah satu permainan tradisional, congklak namanya - hadisome.2010

Sebenarnya ada banyak sekali permainan tradisional yang sering dimainkan oleh kita selaku anak-anak pada masa kecil kita. Sebut saja egrang, galah, kasti, sorodot gaplok, ucing sumput (hide and seek-in English), boy-boyan, dan beragam permainan lainnya. Namun cukuplah sedikit yang saya catat disini sebagai representasi dari permainan tradisional yang punah dimakan jaman tersebut.

Ah, kini jaman sudah berubah. Pemandangan yang sama, tidak pernah saya lihat lagi di era saya dewasa sekarang ini. Anak-anak seusia keponakan saya hampir semuanya jarang ada yang bermain bersama-sama setiap sore hingga menjelang maghrib. Jika pun mereka berkumpul, sudah pasti berkumpul pada satu tempat bernama rental PS. Mereka sibuk bermain permainan virtual hasil karya salah satu perusahaan elektronik Jepang tersebut. Kalaupun bosan di rental, mereka akan bermain bola atau layangan. Itu saja. Padahal ada banyak sekali macam permainan tradisional.Seperti yang saya ceritakan di atas.

Ternyata perubahan jaman sudah sangat pesat. Keponakan saya yang baru berumur lima tahun, lebih mengenal permainan game komputer sejenis feeding frenzy, ketimbang bancul atau gatrik. Dia lebih mengenal game flying dice di HP saya ketimbang permainan ular tangga manual. Bahkan untuk beberapa game komputer, dia sudah sangat mahir memainkannya.

Saya salah jika harus menuntut para keponakan saya untuk bermain permainan yang saya alami dulu. Nyata, beda jaman ternyata beda permainan. Hanya sebuah perkenalan saja bagi mereka bahwa dulu ada jenis-jenis permainan yang pernah kami, para orang tuanya, mainkan. Cukuplah dia mengenal saja, karena sekali lagi, beda jaman memang beda permainan.

Beruntung, katanya di Bandung sudah ada kelompok yang peduli dengan permainan-permainan tradisional ini. Semoga permainan-permainan tradisional itu tidak cepat punah meski sudah sangat sulit untuk dilestarikan.(HS)


kakimanangel, september2010.

angin puting beliung itu terjadi di cianjur

Hari Ini, senin 11 Januari 2010, saya berkesempatan mengunjungi kegiatan posyandu di RW 15 kampung kebon manggu, kelurahan sawah gede, Cianjur. RW 15 Kelurahan Sawah Gede adalah wilayah yang terkena bencana angin puting beliung. Kejadian bencana angin puting beliung ini terjadi pada hari sabtu 9 januari 2010 lalu, sekitar pukul 14.30 WIB.

pak jen, didepan puing-puing rumahnya

Menurut penuturan salah satu korban bencana yang berhasil saya wawancarai, bapak Jen, menuturkan bahwa kejadian berlangsung sangat cepat. Angin yang memutar menghitam, memporakporandakan beberapa rumah di RW 15. Salah satunya adalah rumah korban, yang ternyata merupakan korban terparah.

Menurut penuturan beberapa petugas kesehatan yang menjaga posko kesehatan di lokasi kejadian, tidak ada korban jiwa dalam kejadian bencana tersebut. Data yang berhasil dihimpun, terdapat 7 korban rumah rusak berat, 43 rumah rusak sedang, dan 78 rumah mengalami rusak ringan. Beberapa keluarga yang menjadi katagori rusak berat dan ringan untuk sementara diungsikan pada tenda sementara yang dibangun disekitar lokasi kejadian.

Menurut penuturan warga, pemerintah Cianjur telah meninjau lokasi bencana dan menyalurkan bantuan kepada 7 korban rumah rusak berat. Bantuan disalurkan oleh bupati Cianjur dan diterima langsung oleh warga. (HS)

foto-foto lainnya ada disini KLIK

What… Dessy juga mau???

Ketika tengah hangat-hangatnya diskusi tentang keutuhan NKRI di blog kompasiana, saya mendapat undangan group facebook untuk bergabung dengan salah satu grup pendukung bakal calon bupati Cianjur. Undangan ini saya peroleh dari salah satu kawan SMA saya yang kini sudah sukses menduduki kursi anggota dewan perwakilan rakyat daerah Kabupaten Cianjur.

Grup yang mengundang saya ini adalah ABDAS, akronim dari Ade Barkah- Dessy Ratnasari. Grup ini merupakan grup/komunitas pendukung “ABDAS” untuk Cabup dan Cawabup Kabupaten Cianjur periode 2011-2016. Saya tergelitik untuk mengetahui lebih banyak sepak terjang grup ini, sehingga saya bergabung dengan mereka.

Perlu diketahui, bahwa pemilihan bupati Cianjur ini akan dilaksanakan tahun 2011 nanti. Namun, upaya para bakal calon ini meraih popularitas sudah dilaksanakan sejak tahun 2009 lalu. Kini, salah satu pentolan mantan ketua DPRD Cianjur periode 2004-2009, Bapak Ade Barkah surahman menggandeng Dessy Ratnasari sebagai calon wakil bupatinya. Ade Barkah adalah salah satu elemen partai Golkar kab. Cianjur.

pertanyaan saya, benarkah Dessy Ratnasari mau mencalonkan diri jadi calon wakil bupati Cianjur???

Semoga saja, siapapun itu, bisa membawa kemajuan untuk Kabupaten yang Luasnya 3 kali lipat ibukota ini. (HS)

Sumber: disini

FLASHBACK 3- CERITA PRIBADI SEBUAH PENGABDIAN (SEASON 1-PART 3)

rata-rata, jalanan ke cianjur selatan seperti ini ketika saya masih bertugas disana hehehe...(dok. pribadi)

rata-rata, jalanan ke cianjur selatan seperti ini ketika saya masih bertugas disana hehehe...(dok. pribadi)

Ini adalah cerita ketiga kisah saya yang menerjang jalan berbatu, disebuah tempat pelosok Cianjur, yang masih di pulau Jawa, yang masih di Jawa Barat, yang masih berada di ujung paling selatan ibukota Negara Republik tercinta ini.

Kenapa saya memulai dengan prolog seperti diatas? Jika anda mengikuti part 1 dan 2, anda akan mengetahui ternyata pembangunan yang belum merata di negeri kita tidak hanya ke wilayah tengah dan timur saja, tidak hanya menyebrang pulau saja, tapi masih berada disatu pulau bahkan diujung yang berlawanan dengan Ibukota RI yang merupakan Pusat segala peradaban, kemajuan, uang, teknologi, politik dan Impian bagi para perantau.

Miris rasanya hati saya ketika mengetahui betapa tertinggalnya pembangunan ke daerah selatan provinsi Jawa Barat ini. Bandingkan dengan Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang sudah menjadikan daerah pesisir selatannya sebagai sebuah kota otonom dengan wilayah yang tidak terlalu besar. Baca lebih lanjut