Tips Menyiapkan Sahur Bagi Pengekost

Sebagai seorang perantau (cieelah), tentu saja bulan ramadhan seperti sekarang ini saya harus menyesuaikan pola hidup. Jika biasanya sarapan pagi menjadi hal yang bisa dilakukan dimana saja,  kadang di rumah (kost) kadang di kantor, maka untuk bulan ramadhan seperti sekarang ini sahur adalah sebuah keharusan (sunnah lebih tepatnya) yang tidak boleh terlewati.

Banyak anak kost yang biasanya melewatkan sahur karena malas ke luar rumah/kamar. Sementara mereka tidak menyediakan makanan untuk bersahur. Jadilah menu air putih dan, paling banter, mie instant sebagai menu sahur. Atau kalaupun mereka tidak malas, biasanya mereka harus mencari warung (tegal, biar murah hehehe) dan ‘bersaing’ dengan puluhan anak kost lain untuk mengisi perut di saat sahur. Kesiangan sedikit, bisa-bisa menu yang tersedia di warteg tinggal kerupuk karo tempe orek.

Untuk menyiasati hal ini, saya sudah punya trik tersendiri. Ini saya lakukan sejak berpuluh tahun lalu semenjak masih berstatus anak kuliahan di tahun 2000-an. Sebagai seorang pemalas yang tidak mau repot keluar kamar dini hari buta, maka saya mempunyai strategi dengan cara membeli makanan sejak waktu buka. Ini lumayan efektif dan membantu sekali. Apalagi ketika udara dingin dan hujan menjadi penghalang tambahan bagi anak-anak kost keluar rumah untuk membeli makan sahur pagi-pagi buta.

Seperti hari ini (senin, 22/7/2013), hujan turun sejak dini hari. Udara di Bandung menjadi lebih dingin dari biasanya. Dan bisa diduga, sayapun bangun agak sedikit terlambat. Untung saya sudah menyiapkan makanan sejak jam 10 malam. Jadi begitu bangun, gosok gigi, wudhu (cuci muka), saya langsung bisa makan tanpa khawatir telat atau keburu imsyak. Walaupun agak kesiangan, saya masih punya waktu yang terbilang leluasa untuk santap sahur. Ini tentu saja tidak akan terjadi jika saya tidak prepare makanan sejak semalam.

Itu, apa ngga basi, makanan disiapkan dari jam 10 malam?

O tenang aja, makanan yang saya siapkan tentu saja bukan makanan yang dapat basi dalam semalam. Jadi makanan tersebut aman.

Nah untuk lebih jelasnya berikut saya bagikan tips supaya ketika bangun telat, masih bisa sahur, terutama untuk para pengekost seperti saya. Baca lebih lanjut

Spot Ngabuburit: Jalan Pusdai

Selalu ada yang khas ketika bulan Ramadhan tiba. Dari sisi ibadah, sudah pasti. Namanya saja bulan puasa, kami selaku umat muslim diwajibkan untuk menahan lapar haus dan lain-lain sejak waktu imsyak hingga adzan magrib berkumandang. Belum lagi ibadah-ibadah lainnya, misalnya shalat tarawih. Udah gitu, pahala ibadah yang dilakukan katanya dinilai berlipat-lipat. Itu semua cuma ada di bulan ramadhan saja. Bulan-bulan lain tidak ada. Itulah sebabnya kenapa bulan ramadhan dikatakan istimewa.

Keistimewaan lainnya yang saya rasakan ketika ramadhan seperti ini, bermunculannya spot-spot favorit tempat ngabuburit. Di deket tempat tinggal saya ada beberapa spot tempat ngabuburit. Salah satunya di jalan Pusdai. Persis di depan Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Jawa Barat. Setiap sore selama bulan ramadhan, pasti akan selalu ramai oleh anak-anak dan juga orang dewasa yang mencari menu takjil. Sebab di jalan yang hanya berjarak 100-an meter ini digunakan oleh para pedagang takjil musiman yang hanya ada di bulan ramadhan. Para pedagang tersebut akan mulai terlihat menjajakan dagangannya mulai jam 3 sore hingga lepas maghrib. Setelah itu, jalan ini akan kembali lengang seperti biasa.

Sebagai pendatang di Kota Bandung, keberadaan tempat jajanan ini sungguh membantu. Soalnya saya tak perlu repot-repot mencari menu takjil dan menu berbuka. Di sepanjang jalan yang menghubungkan antara jalan supratman dan jalan surapati tersebut, selain menu takjil,  berjejer pula para pedagang yang menjajakan makanan untuk berbuka puasa. Mulai dari pepes-pepesan, soto ayam, tempe mendoan, gorengan, tahu sumedang, bubur ayam,batagor, dawet ireng, sop buah, zupa-zupa, dan sebagainya. Bahkan cilok dan cireng bumbu juga tak ketinggalan.

beginilah suasana jalan pusdai di sore hari bulan ramadhan. HS.2013

beginilah suasana jalan pusdai di sore hari bulan ramadhan. HS.2013

Baca lebih lanjut

Makan di Wale

Hari selasa kemarin, kegiatan di kantor sedang agak santai. Jadi saya bisa keluar kantor sejenak pas jam istirahat. Sejenak maksudnya melebihi jam istirahat ya hehehe… jarang-jarang loh saya bisa seperti itu, walaupun sebenarnya itu nggak baik untuk ditiru. Jadi saya istirahat lebih cepat setengah jam dari jam seharusnya dan lebih lama setengah jam dari jam masuk lagi. Nah jeda waktu tersebut saya manfaatkan untuk mengisi perut ke tempat yang agak jauh dari kantor.

Karena selama ini saya penasaran dengan yang namanya Warung Lela, jadilah saya mengajak kawan saya Dheri untuk makan di sana. Saya tau Warung Lela ini dari Dheri & Dean, a couple partner di kantor. Katanya tempat makan ini ada di daerah Rancakendal. Nah berhubung saya tidak tau dimana itu Rancakendal, jadilah saya mengajak Dheri untuk ‘bertanggung jawab’ atas rasa penasaran saya terhadap tempat makan yang sering disebut WALE ini.

Baiklah sekarang saya sedikit bercerita tentang Warung Lela ini.

Warung ini berada di Jalan Kupa No 6 Rancakendal Bandung. Agak nyingcet sih kalo dari kota, karena tempatnya rada-rada di daerah perbukitan dago gitu. Saya kemarin masuk dari cikutra terus ke arah cigadung. Kemudian berbelok ke arah komplek dosen Unpad kalo gak salah inget nama komplek perumahannya Dago Resort. Agak-agak lupa sih, soalnya jalannya naik turun gitu. Susah ya? Hahahaha, google map aja, jangan kayak orang gaptek, pasti ketemu kok hehehe.

Begitu nyampe, suasana udara pegunungan langsung terasa. Hawa sejuk walaupun siang hari, apalagi awan lagi banyak-banyaknya           ( -_- ), hahaha, maksudnya kemarin pas saya ke sana cuaca emang lagi agak mendung. Jadi suasana santainya dapet banget. Mungkin buat yang pacaran, suasana buat mojoknya makin dapet deh kayaknya.

Ada dua bangunan utama Warung Lela, satu sebelah kanan jalan satu lagi sebelah kiri. Saya milih yang sebelah kanan (kalau dari arah bawah ya). Karena kata temen saya di sebelah kanan itu bakal dapet bonus view yang indah. Dan ternyata bener, saya bisa melihat hehijauan lembah (apa namanya ya?) yang cukup bikin mata melek dan menghilangkan penat sejenak. Sedangkan yang sebelah kiri itu pengembangan dari bangunan utama kayaknya. Saya lihat, sepertinya bangunan sebelah kiri wale ini adalah rumah tinggal yang disulap jadi tempat makan karena saya lihat di ruang tengah ada TV, kemudian ada kamar tidur juga. Sedangkan yang bangunan kiri itu khusus untuk tempat makan (sepertinya, saya ngga masuk ke situ sih hehehe).

suasana warung lela (HS.doc-2013)

ruang tengah warung lela (HS.doc-2013)

Baca lebih lanjut

Warung Gerobak, Terima Kasih….

Dunia kuliner agaknya selalu menjadi salah satu bahan yang menarik untuk dibicarakan. Mulai dari kuliner kelas bintang lima hingga kuliner kelas kaki lima. Kuliner bintang lima mungkin tidak semua orang bisa mencicipinya, mengingat harga yang ditawarkan biasanya bukanlah harga untuk sembarang orang. Hanya orang-orang berkantong tebal saja biasanya yang bisa mencicipi dan menikmatinya hehehe. Saya? sesekali saja, untuk moment tertentu biasanya saya makan di tempat makan yang harganya bisa berlipat-lipat itu.  Namun lain halnya dengan kuliner kaki lima, hampir semua orang bisa mencicipi makanan-makanan yang dijajakan oleh mereka para pedagang jajanan pinggir jalan, yang biasanya disebut juga warung atau restoran jalanan.

Berbicara mengenai jajanan pinggir jalan, bagi saya yang termasuk kategori berkantong rata-rata, keberadaan jajanan pinggir jalan ini sungguh membantu sekali. Sebagai perantau yang kini berstatus sebagai anak kost (lagi), saya mengucapkan banyak terima kasih dengan adanya warung-warung tenda dan warung-warung gerobak yang menyediakan makanan murah tersebut. Betapa tidak, hampir setiap hari selepas pulang kantor, saya pasti akan selalu menyempatkan diri untuk mampir di warung tenda atau gerobak untuk membeli makanan buat makan malam. Gimana nggak beli, saya malas masak. Apalagi menjadi anak kost seperti ini, saya butuh yang praktis-praktis saja.

Sebagai  konsumen warung-warung gerobak tersebut saya tentu saja harus memilih apa yang menurut saya aman untuk dikonsumsi. Saya selalu memperhatikan kebersihan warung yang saya datangi. Ini saya lakukan mengingat saya pernah terjangkit penyakit types beberapa bulan lalu. Jadi saya tidak boleh sembarangan (lagi) memilih jajanan/makanan. Saya harus memilah apa yang boleh saya beli, dan jajanan mana yang tidak bisa saya konsumsi. Biasanya sebelum membeli makanan, saya perhatikan dulu kebersihan lokasinya. Kemudian tingkat keramaian pengunjung warung tersebut. Dan yang utama adalah menu yang disajikan. Jangan sampai karena saya jajan sembarangan, efeknya saya yang harus kena penyakit.

Saya cerita saja nih ya, pernah saya membeli seafood di pinggir jalan. Saya lihat lokasinya tidak terlalu buruk lah. Terlihat ‘lumayan’ bersih dari luar. Saya pun masuk ke warung tersebut. Namun ketika saya melongok ke ‘dapur’ yang notabene terlihat dari meja makan, saya langsung bergidik ngeri. Ada banyak lalat di sana. Belum lagi penataan ikan dan bumbunya yang berantakan. Yaiks, jorok sekali. Mau keluar lagi, malu karena sudah masuk warung, mau nggak jadi mesen, nggak ada alasan tepat. Masa iya saya bilang :”ga jadi mesen mas” apa kata mereka? Akhirnya saya mesen makanannya di bungkus saja. Dan karena saya ragu-ragu, setelah saya beli, bayar, keluar dari warung tersebut,  saya nggak makan itu seafood.

restauran jalanan yang bersih - HS.2013

restauran jalanan yang bersih – HS.2013

Terlepas dari kesan kurang enak tersebut, menurut kacamata saya sebagai konsumen warung tenda atau warung gerobak, jajanan pinggir jalan alias streetfood bukanlah sesuatu yang buruk. Justru saya melihat banyak aspek  positif tentang penjaja makanan kaki lima ini. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, mereka sungguh sangat berjasa menyediakan menu makanan untuk orang-orang yang malas masak. Berjasa juga untuk kami para penghuni kost yang tidak bisa selalu makan di tempat mewah. Bahkan mereka juga berjasa untuk menggerakan roda perekonomian bangsa ini.

Tentang menggerakan roda perekonomian, anda bisa bayangkan, ketika pengusaha-pengusaha warung tenda tersebut membuka lapaknya, ada berapa ratus juta dana yang bergulir dalam semalam? Sebenarnya jika pemerintah mau turun tangan untuk mengelola warung-warung tenda ini, bukan tidak mungkin ini akan membantu perekonomian masyarakat Indonesia. Memang sih, warung jajanan pinggir jalan ini kalah kelas apabila dibandingkan dengan restaurant atau café-café. Namun, nyatanya, banyak sekali yang menggantungkan harapan dari usaha ini. Bahkan pengusaha-pengusaha warung tenda ini secara tidak langsung sudah mengurangi angka pengangguran dengan mempekerjakan tenaga-tenaga yang biasanya mereka rekrut berdasarkan hubungan kekerabatan. Lumayan kan, daripada nganggur ga dapat duit, mending ikut paman dagang nasi goreng.

Sudah banyak kisah sukses para pedagang warung tenda yang dikupas di media-media. Berbekal kreatifitas, mereka menjadi salah satu pengusaha yang pada akhirnya diperhitungkan. Di Bandung saja contohnya, banyak sekali warung tenda atau pedagang yang akhirnya beralih memiliki bangunan permanen, Meski tidak sedikit juga mereka yang bertahan dengan tendanya, namun omset yang mereka raih tidak bisa dibilang main-main. Dulu, salah satu kakak kelas saya semasa kuliah, orang tuanya punya usaha warung tenda. Dan nyatanya dia bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Hebat kan?

Selain menggerakan roda perekonomian, Secara tidak langsung, jajanan pinggir jalan juga memberikan warna terhadap kebudayaan kuliner masing-masing kota.  Misalnya di Jogjakarta yang terkenal dengan kawasan Malioboro-nya, disitu bisa ditemukan beragam makanan khas Jogjakarta, mulai dari gudeg hingga wedang.

Ah,  saya nggak usah jauh-jauh ke Jogjakarta deh, di kota kecil tempat saya lahir dan tumbuh besar bernama Cianjur saja, ada satu jalan yang dijadikan lokasi tempat para pedagang makanan berkumpul, namanya Jalan Sinar. Jalan ini, setau saya, sejak saya kecil sudah dipenuhi banyak pedagang yang buka mulai jam 5 sore hingga tengah malam. Di jalan sinar  ada beberapa pedagang makanan khas Cianjur, seperti comhu atau bubur ayam Cianjur.  Di jalan ini saya juga bisa menemukan aneka jenis makanan lainnya, mulai dari makanan ringan seperti pisang molen, martabak,  hingga makanan berat macam seafood, ayam goreng, atau bebek goreng.

Warung gerobak ternyata juga bisa menjadi salah satu identitas sebuah kota. Contohnya ketika anda sekalian berkunjung ke Bandung, anda akan langsung mengetahui bahwa makanan khas Kota Kembang ini diantaranya adalah Batagor dan cilok. Kenapa begitu? Karena ketika anda jalan-jalan di kota ini, dengan mudahnya anda bisa menemukan banyak sekali penjaja Batagor dan cilok keliling di Bandung. Begitupun ketika berkunjung ke kota lain, kita akan mudah sekali mengenali makanan khas kota tersebut dari penjaja-penjaja makanan  makanan keliling tersebut.

Ah, banyak sekali ya ternyata manfaat keberadaan warung-warung gerobak itu. Sudah sepatutnya kita berterima kasih kepada mereka karena telah menyediakan makanan murah meriah, dan tentu saja mereka juga akan membalas berterima kasih kepada kita karena sudah menjadi konsumen mereka. Sebuah simbiosis mutualisme yang indah bukan? (HS)

Tulisan ini diikut sertakan dalam Femina Foodlovers Blog Competition 2013.

Femina Travel & Food Blogger Competition

 

[Kuliner] Nasi Pepes Ibu Ifun

nasi pepes, foto diambil pake BB, jadi agak burem (HS)

Saya langsung jatuh suka dengan nasi pepes buatan ibu Ifun ini untuk pertama kali ketika saya secara tak sengaja menyantapnya sehabis bersepeda di suatu hari ahad. Saya bertemu dengan nasi pepes Ibu Ifun ini di lapangan Prawatasari Cianjur yang lebih akrab dikenal dengan sebutan lapangan joglo.

Oke, sedikit info tentang lapangan joglo. Lapangan joglo di hari minggu itu bisa dikatakan sebagai tempat olah raga (pada awalnya) masyarakat cianjur, dimana banyak pedagang yang menjual macam-macam berkumpul di situ. Mulai dari sendal jepit, sampai makanan. Bayangkan saja semacam lapangan gasibu Bandung, dalam versi yang lebih kecil.

Nah, kenapa saya bilang tak sengaja ketemu Nasi Pepes Ibu Ifun ini?

Begini… waktu itu, saya beserta seorang teman, seperti biasa akan mencari sarapan pagi di sela-sela kegiatan bersepeda di minggu pagi. Karena bingung menentukan menu apa yang akan kami cicipi, maka saya dan si temanpun berkeliling mencari-cari kira-kira menu apa yang akan kami santap pagi itu. Bubur ayam, bosan. Sate maranggi, sudah pernah. Nasi tim ayam, teman saya nggak suka. Nasi kuning, saya yang menolak. Nasi bakar, menunya kurang komplit. Jadilah kami berdua mencari menu lain.

Baca lebih lanjut

MMPL, Mesen Makan Pake Lama…

Hari senin tadi, 26 desember 2011, saya melewatkan masa cuti bersama alias libur sehari, dengan jalan-jalan ke Kebun Raya Cibodas bersama keluarga kakak, dan keponakan saya. Tidak ada yang istimewa sih buat saya ceritakan di sini. Semua berjalan seperti biasa saja layaknya liburan. Kecuali hujan yang tiba-tiba turun ketika kami baru memulai duduk-duduk pada alas terpal yang biasa disewakan seharga sepuluh ribu rupiah.

Karena tidak ada persiapan berlibur alias kami berangkat dadakan, kami tidak membawa bekal makan siang untuk kami santap di tempat piknik. Kami mengisi perut seadanya dengan mie cup yang dijual di area wisata berhawa sejuk itu.

Sehabis dari cibodas, kemudian turun gunung dan mampir di salah satu factory outlet. Lumayan lama menunggu keponakan saya maen-maen mandi bola di factory outlet itu. perut keroncongan masih bisa saya ajak kompromi sampai keponakan saya selesai main-main. Kami pun segera meluncur pulang kembali meninggalkan cipanas.

Nah, karena perut keroncongan yang belum diisi nasi, kami pun mampir di salah satu rumah makan yang belum lama buka. Berdasarkan cerita dari mulut ke mulut, RM yang terletak di jalan raya cianjur-cugenang itu menyediakan tahu sebagai menu utamanya. Kakak saya mengajak berhenti di RM tersebut untuk mengisi perut yang memang sudah tak bisa lagi diajak kompromi. Kami pun memesan menu sesuai dengan yang tertera di daftar menu, seorang perempuan muda yang rupanya pelayan di RM tersebut mencatat pesanan kami. Dua nasi timbel daging gepuk, satu nasi timbel ikan nila balita, satu karedok, dan tahu goreng sebagai makanan pembuka, serta enam gelas teh tawar panas.

ini tahu yang jadi menu pembuka. tinggal 5 biji, dari 15 biji tiap porsinya (HS)

karedoknya sih enak, tapi nunggunya itu, alamaaakkk, lama benerrrrr (HS)

Semenit dua menit, kami menunggu. Pesanan kami tak jua muncul. Sepuluh menit. Baru muncul air, itupun Cuma segelas. Beberapa menit kemudian, muncul tahu. Karena lapar, saya sikat saja beberapa biji. Tanpa air. Baru setelah itu, muncul karedok, dengan selang waktu yang masih bisa ditolerir. Agak sedikit lama, baru muncul lima gelas air. Saya mulai tak sabar, saya coba lihat ke arah dapur yang memang terletak agak jauh dari tempat duduk pengunjung. Si perempuan yang tadi nyatet pesanan kami, tampak berdiri di pintu. Pesanan kami belum juga muncul. Sementara empat gelas sudah kami habiskan oleh tiga orang. Hampir habis kesabaran, meja sebelah, yang datang beberapa menit sebelum kami, sudah hampir menyelesaikan makan mereka, sementara pesanan saya belum juga muncul.

Desperate. Saya memutuskan untuk membereskan saja semuanya. “kita bayar saja yang ini. sisanya kita batalin” begitu kata saya setelah hampir setengah jam menunggu menu utama yang belum muncul juga di meja kami. Bener deh, saya kesal. Perut lapar itu bukan untuk didiamkan, tapi untuk diisi. Dan kami datang ke RM tersebut, berniat untuk mengisi perut, bukan untuk menunggu pesanan dan menyaksikan orang lain makan lahap hingga kenyang. Rasa kesal saya memuncak ke ubun-ubun, tepat ketika pesanan datang.

Baca lebih lanjut

Cerita Dibalik Nastar Sudi Mampir

yuhuu, blognya saya apdet lagi hahaha… silakannnn

-hs-

Berbekal pesanan dua orang teman di Jakarta, yang membaca sebuah tulisan tentang kue nastar, saya meluncur ke arah Cipanas yang letaknya lebih kurang 15 km dari rumah saya. kenapa saya bela-belain cari itu nastar demi dua orang kawan saya yang sudah lama tidak bertemu tersebut?

Begini ceritanya: Beberapa waktu lalu, seorang blogger yang tergabung di kompasiana, Iwan Piliang,  menuliskan tentang perhelatan pernikahan putera SBY di Cipanas-Cianjur. Prosesi pernikahan yang mengundang banyak orang Jakarta untuk datang ke daerah berhawa sejuk tersebut rupanya menjadi catatan menarik untuk ditulis banyak orang. Tidak terkecuali Iwan. Dalam tulisannya iwan menceritakan bahwa dirinya sering sekali bertandang ke Cipanas. Dalam artikel tersebut, Iwan menulis tentang beberapa kebiasaannya dan catatannya mengenai Cipanas yang menurutnya banyak berubah, kecuali untuk beberapa hal. Salah satunya adalah tempat dia makan jika bertandang ke kota pegunungan tersebut. Sudi Mampir namanya.

Rupanya artikel Iwan yang sempat nangkring di kolom headlines tersebut menarik bagi beberapa teman saya. menarik bukan karena iwan menceritakan kisahnya yang berkaitan dengan pernikahan iBas dan Aliya, namun teman-teman saya tertarik dengan cerita iwan tentang kue nastar yang hanya bisa didapatkan di rumah makan yang berada tidak jauh dari istana kepresidenan cipanas itu.

Nah berbekal rasa penasaran tersebut, dua orang teman saya, Yunika Umar dan Suri Nathalia (biar beken ah, ditulisin namanya hihihi),  langsung berdiskusi via twitter mengenai nastar yang ditulis saudara Iwan tersebut. kepenasaranan mereka menyeret saya untuk ikut-ikutan penasaran dengan kue nastar yang katanya berukuran besar dan berisi selai nanas yang banyak tersebut.

Kenapa saya jadi turut terseret? Hahaha, mereka “pandai memanfaatkan situasi”  rupanya (lirik Suri). Jadi ya, saya kan berencana mau datang ke acara ultahnya kompasiana di Jakarta sabtu pekan ini. Jadilah Suri dan Ika (Yunika) mention saya berkali-kali untuk membawa itu nastar. Kami bertiga menyebutnya dengan hastag #nastarpiliang. Maaf mas iwan, namanya dicatut hehehe.

Dengan berbekal sedikit informasi yang saya peroleh dari Suri dan yunika, maka kemarin, sepulang kantor, saya melakukan perjalanan ke Cipanas. Jujur, walaupun Cipanas hanya terletak sekitar 15 kilometer dari rumah saya, namun saya jarang melihat-lihat apalagi menghapal nama-nama rumah makan yang ada di sana. Termasuk Sudi Mampir itu. Jadi hanya berbekal niat untuk menuntaskan rasa penasaran itulah saya mencari RM Sudi Mampir.

RM Sudi Mampir - HS.2011

Ah,tidak sulit ternyata. RM Sudi Mampir terletak persis di tepi Jalan raya Cipanas. Persis bersebelahan dengan dengan RM sate Shinta. Jika dilihat dari bangunannya, saya menduga rumah makan ini sudah berdiri sejak jaman nyonya menir (halah)… . sudah berdiri sejak lama maksudnya. Cuma berhubung saya yang kurang gaul, jadi saya memang tidak terlalu fokus dengan keberadaannya hehehe.

Saya pun masuk ke RM tersebut. tampak seorang perempuan yang sudah senior duduk di bagian kasir. Saya menduga dia adalah pemilik RM ini. saya pun memperkenalkan diri dan menyebutkan tujuan saya ke RM tersebut. Mencari kue nastar yang informasinya saya dapat dari internet. Saya bilang saya baca di internet kalau RM tersebut menjual nastar spesial.

Perempuan yang belakangan saya ketahui bernama Tante Lestari itu memang ternyata pemilik RM tersebut, sekaligus pembuat nastar yang diceritakan di artikelnya Iwan Piliang. Dengan ramah tante Lestari menyambut kedatangan saya. Kami pun langsung akrab.

“wah, Kebetulan mas, hari ini mas sedang beruntung.” Begitu jawaban Tante Lestari ketika saya mengutarakan tujuan saya.

“beruntung karena saya sedang membuat nastar itu hari ini.” Tanpa sempat bertanya, Tante Lestari menjawab kerutan di kening saya.

Belakangan baru saya ketahui, kenapa saya dibilang beruntung, karena rupanya si Tante membuat nastar itu tidak setiap hari. Hanya hari-hari tertentu saja. “Tergantung mood” begitu katanya.

“Saya baru bikin lagi hari senin. Jadi memang beruntung. Pas datang ke sini, pas saya lagi bikin.” Tante Lestari menunjukkan beberapa loyang nastar siap oven di meja. Ow, amazing. Saya takjub ketika melihat ukuran kue yang biasanya menjadi penganan khas hari raya itu. tiga sampai empat kali lipat dari ukuran biasa. Dan segera saya merasa bungah karena keberuntungan saya datang hari itu berbuah hasil.

Ketakjuban saya tidak berhenti sampai disitu. Saya takjub kedua kali ketika saya bertanya berapa harga nastar tersebut.

Jika dilihat berdasarkan harga kue-kue lebaran, cukuplah satu kap nastar ini untuk satu keler kue nastar kecil-kecil. Satu kap kue nastar ini berisi empat buah kue nastar berukuran jumbo. Demi menuntaskan kepenasaranan, saya pun tak segan merogoh kocek untuk memesan tiga kap. Rencananya, dua kap saya bawa ke Jakarta. Satu kap mau saya makan hihihi… pengen tau, gimana sih rasa nastar spesial dengan harga tak kalah spesial itu.

Masih menurut Tante Lestari, dia membuat kue nastar itu tidak setiap hari. Tergantung mood. Kalau moodnya tidak ada, bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu dia tidak mau membuat kue berukuran jumbo itu.

“Meskipun ada pembeli, Tante?”

“Iya. Kalo lagi nggak mood, ya nggak saya bikin. Kalo nggak moodnya berbulan-bulan, yaa saya nggak bikin berbulan-bulan.” Ucap Tante Lestari sambil terkekeh.

Tante Lestari pun bercerita, bukan kali ini saja ada pembeli yang datang untuk kue nastarnya. Tidak jarang mereka yang datang harus pulang dengan tangan hampa karena si Tante sedang tidak mood membuat kue.

“Ini aja saya bikin seharian. Dari pagi sampe jam segini. Malah saya belum makan siang.” Dengan ramah Tante Lestari bercerita.  Padahal jam sudah menunjukkan angka tiga lho hehehe. Hanya ada lima sampai tujuh loyang saja. artinya, kue ini dibuat terbatas. Dan memang, hanya yang beruntung saja yang bisa dapat.

Saya jadi teringat sebuah cerpen jeng Winda, tentang cupcake cinta yang dibuat dengan perasaan si pembuatnya, sehingga menebarkan rasa cinta kepada pembelinya. Saya pun berseloroh wah tante, berarti kue ini dibuat dengan penuh perasaan dong ya. Dan si Tante mengangguk sambil tersenyum riang.

ini lho kue nastar bikinan tante Lestari - HS.2011

Tentang rasanya bagaimana?

Saya perlu menunggu sehari untuk tau bagaimana rasa kue spesial ini. pasalnya, ketika saya membeli, kue tersebut belum dipanggang. Jadi, saya indent sehari hahaha.

Lezat. Renyah. Gurih. Ah, rasanya tiga kata itu belum cukup untuk menggambarkan bagaimana rasa nastar yang saya beli itu. Perpaduan wismann dan selai nanas yang lumer di mulut, memberi sensasi gurih gurih seger gimanaaa gitu. Pokoknya, saya tidak kecewa dengan nastar ini. pantesan saja Tante Lestari berkali-kali bilang: kamu beruntung. Pas datang, pas tante lagi bikin. Ah, iya. Memang… saya beruntung bisa mencicipi nastar spesial ini lebih dulu dibanding dua teman saya yang penasaran terlebih dahulu.

Mau tau rasanya? Besok saya bagi secuil deh hehehe…. (HS)

foto-foto:

Tante Lestari yang ramah - hs.2011

Nastar yagn belum dibakar - HS.2011

nastar yang sudah dikemas

pisang goreng buatan Tante Lestari

Notes: Trims To Tante Lestari. Kalo ada teman-teman yang sedang main ke cipanas, mampir saja ke RM Sudi mampir yang berada di jalan raya cipanas no 16 itu. Siapa tau si Tante sedang mood membikin itu kue. Atau telpon saja dulu ke (0263) 512672.

Oya, selain membuat nastar, si tante juga membuat pisang goreng. Kalo pisgor ini, selalu ada setiap hari. Saya berkesempatan mencicipi pisang gorengnya secara gratisan ketika mengobrol dengan Tante Les.