#PersibJuara lagi

1995

Saya masih smp waktu itu. Liga indonesia baru bergulir untuk pertama kali. Final mempertemukan persib bandung dan petrokimia gresik. Saya, ikut nonton di rumah bersama abah, dan keluarga lainnya.

Pertandingan berlangsung ketat. Tidak ada gol tercipta. Hingga akhirnya, di babak kedua, sutiono  berhasil merobek gawang petrokimia putra. 1-0 bertahan hingga akhir babak. #PersibJuara liga indonesia untuk pertama kali.

2014

Hari ini kuliah digeser ke jam 4. Sepulang kuliah, saya sengaja beli martabak telor dulu karena perut lapar. Melewati jalan tilil, tampak warga yang sedang nobar di lapang puter. Padahal cuaca sedang hujan rintik rintik.

Saya buru buru pulang ke kost. Rupanya final liga super sudah mulai. Final antara persib bandung melawan persipura jayapura. Saya nyalakan tv, nonton sendirian aja.
persipura sudah unggul. Padahal waktu baru delapan menit.

Tetap optimis, toh baru delapan menit. Masih banyak waktu. Dan memang tim kebanggaan kota kembang ini berhasil menyamakan angka. Satu sama.

Persib unggul 2-1 di babak kedua. Tapi saya malah gregetan. Persib melemah. Seakan akan udah juara. Padahal waktu masih lima belas menit. Betul saja, persipura ngejar. Jadilah dua sama. Sampe menit sembilan puluh lebih sekian, angka masih sama. Huh…

image

Perpanjangan waktu dua kali lima belas menit. Dua tim berjuang mati matian. Menunjukkan kualitas juara. Tidak ada kata menyerah. Masih penuh optimisme walaupun sudah terlihat letih. Skor masih tetap sama. Dua dua.

Adu pinalti jadi keputusan akhir yang harus dilalui oleh dua tim. Satu kosong untuk persib, satu sama, dua satu persib, dua sama, tiga dua persib, tiga sama, empat tiga buat persib, persipura mental, skor empat tiga buat persib, saya bersorak. Lima tiga persib. Saya bersorak lagi. Gembira. Terharu. Penantian panjang sembilan belas tahun, terbayar lunas. #PersibJuara.

Ada hal yang menjadi pelajaran buat saya dari final liga super tadi. Jadi, setidaknya, kalaupun harus kalah, dua tim ini telah bermain baik. Memberikan yang terbaik untuk timnya masing masing. Tidak ada kata menyerah hingga akhir. Intinya kita harus Memberikan yang terbaik demi hasil yang baik. Jangan pesimis kalau mau jadi juara. Proses adalah yang utama. Kalah menang adalah masalah hasil.

Selamat buat para bobotoh di manapun, buat viking, dan seluruh pendukung persib dan warga bandung. #PersibJuara lagi.

Iklan

[Opini] Bangkitlah Bulutangkis Indonesia

Tergelitik dengan komentar-komentar pedas di salah satu berita tentang kekalahan Tim Sudirman Cup Indonesia di babak penyisihan oleh China pada sebuah media online,dimana banyak yang menuliskan komentar bernada pesimis dengan Tim Sudirman Cup yang akan kembali menghadapi China di babak perempat final, saya jadi ingin menuliskan opini saya tentang tim bulutangkis Indonesia yang beberapa tahun ini prestasinya sedang menurun.

Tidak bisa dipungkiri bahwa para pembaca berita media online tersebut berkomentar bukan tanpa sebab. Mereka berkomentar pedas mengingat prestasi bulutangkis Indonesia pernah memasuki titik terendah. Prestasi atlit Indonesia melempem. Atlit-atlit kita lebih banyak kalah jika dibandingkan dengan atlit dari negara lain.  Para pelatih terbaik ‘kabur’ ke luar negeri, berdiaspora ke berbagai negara dan memajukan perbulutangkisan negara-negara yang kurang berprestasi semacam India, Canada, Inggris, dan Malaysia sehingga mereka mampu bertaji di kancah bulutangkis internasional.

Sungguh sebuah ironi yang menyedihkan. Saya pun kala itu tidak lagi tertarik melirik perbulutangkisan Indonesia mengingat prestasi atlit-atlit era tahun sekarang benar-benar merosot drastis dibandingkan tahun 90-an hingga awal 2000-an. Dan yang terburuk dari sejarah bulutangkis Indonesia adalah gagalnya menjaga tradisi medali emas olimpiade di London, serta ‘diusirnya’ dua pemain ganda putri Indonesia yaitu Greysia Polii/Meiliana Jauhari dari arena olimpiade bersama tiga pasangan ganda putri lainnya karena dianggap menodai sportivitas olahraga.

Tapi ditengah-tengah mati surinya prestasi tim bulutangkis Indonesia, saya masih menyimpan asa dan optimisme bahwa suatu saat anak-anak pelatnas cipayung akan mampu mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia, dan kembali mengibarkan bendera merah putih di kancah internasional.

Dibawah kepengurusan baru yang dipimpin oleh Gita Wirjawan, saya kira saat ini perbulutangkisan Indonesia mulai berbenah untuk mengembalikan prestasi Indonesia seperti dulu kala. Beberapa pelatih tangguh kembali dipanggil. Liang Chiu Shia, pelatih senior bertangan dingin yang melahirkan atlet sekaliber Susi Susanti dan Sarwendah Kusumawardhani ‘dikembalikan’ ke pelatnas. Chiu Shia dipercaya sebagai pelatih kepala yang mampu memberikan support positif untuk anak-anak Cipayung khususnya di tunggal Puteri.  Chiu Shia dibantu oleh anak didiknya Susi Susanti dan Sarwendah Kusumawardhani  untuk melatih di tunggal putri bersama Verawaty Fajrin dan  Nova Widianto.   Selain Chiu Sia, mantan atlit ganda putra yang juga peraih medali emas olimpiade, Rexy Mainaki, juga turut ‘dibawa pulang’ dari perantauan. Rexy yang sempat melatih Malaysia selama tujuh tahun dan melahirkan atlit-atlit tangguh negeri jiran tersebut mengaku terpanggil untuk mengembalikan sinar prestasi kejayaan bulutangkis Indonesia di mata dunia.

Memang, butuh waktu yang tidak sebentar untuk kembali mengangkat nama Indonesia di kancah perbulutangkisan internasional. Perlu kerja keras dan semangat pantang menyerah dari anggota Cipayung jika ingin kembali mengharumkan nama Indonesia. Saya yakin, atlit-atlit ini akan kembali mengibarkan prestasi Indonesia di kancah perbulutangkisan dunia.

Pelatih bertangan dingin, Liang Chiu Shia (courtesy of: duaribuan.wordpress.com)

susi susanti, kala menjadi atlit, prestasinya membanggakan Indonesia (dicomot dari google)

Baca lebih lanjut