e-PUPNS yang Susah Diakses… Harus Bagaimanakah Kami?

Sejak beberapa minggu yang lalu, saya sudah mengetahui informasi tentang pendaftaran ulang pegawai negeri sipil. Beritanya waktu itu di muat di salah satu media cetak (entah Kompas atau Pikiran Rakyat). Dalam berita tersebut, disebutkan bahwa pendaftaran ulang ini wajib bagi para PNS di seluruh indonesia. Dan akan dibuka mulai tanggal 1 september 2015, dan berakhir 30 Desember 2015. Yang membuat saya sedikit terkejut adalah sanksi bagi PNS yang tidak mengisi pendaftaran ulang e-PUPNS tersebut, dinyatakan berhenti/pensiun.

Selain dari berita tersebut, broadcast pesan di laman facebook begitu cepat menyebar. Bahkan berita yang dibagikan dalam laman facebook tersebut menuliskan step by step e-PUPNS, serta apa apa saja yang perlu disiapkan dalam proses pendaftaran ulang tersebut.

Kemarin, delapan september dua ribu lima belas, saya mencoba untuk mendaftar ulang di laman http://epupns.bkn.go.id. Saya sengaja memilih waktu mendaftar ulang pagi pagi di bawah jam sembilan. Dengan harapan saya akan lebih mudah mengakses website pendaftaran ulang tersebut. Namun apa daya, ternyata laman tersebut sangat sulit untuk diakses. Berulang kali saya mencoba mendaftar untuk mendapatkan nomer registrasi, berulang kali pula laman tersebut tidak bisa diakses. Hal yang sama juga dialami oleh rekan kantor saya. Kami sama sama kesulitan mengakses situs dari BKN tersebut. Beberapa waktu lalu, salah seorang kawan PNS di salah satu kementerian juga  mengeluhkan betapa susahnya akses untuk mendaftar ulang sebagai PNS tersebut. Beruntung, meskipun lambat, saya berhasil mendaftar dan mendapatkan nomer registrasi. Tinggal memasukan data-data yang wajib dimasukan saja.

Tampilan Web Login Situs e-pupns.bkn.go.id

Lagi-lagi, ketika akan mengisikan data-data, seharian ini saya kesulitan mengakses situs tersebut. Begitu pula dengan rekan-rekan saya di kantor. Hampir semua gagal untuk masuk website tersebut. Tidak heran sih, situs ini akan diakses oleh jutaan PNS di seluruh Indonesia. Apalagi sanksi yang diberikan tidak main-main. DINYATAKAN BERHENTI SEBAGAI PNS! Dan waktu yang diberikan untuk mendaftar ulang pun relatif pendek. Hanya empat bulan saja. Maka, seluruh PNS di Indonesia akan berlomba-lomba mendaftar agar tidak dihentikan sebagai PNS.

Saya tidak habis pikir (makanya saya menuliskan ke-tidak habis pikir-an saya ini di sini) seberapa besar keseriusan BKN dalam persiapan e-pupns ini? Dengan jumlah PNS yang mencapai hampir 4.5 juta yang tersebar di seluruh Indonesia, apakah BKN sudah memprediksi tentang situs yang kemungkinan akan down ketika diakses bersamaan? Apalagi dengan sanksi yang jelas menyatakan PNS dinyatakan BERHENTI jika tidak mengisi e-pupns tersebut, maka seluruh PNS akan berlomba-lomba untuk mendaftarkan dirinya agar tidak DIPECAT status kePNSannya.

Selain menanyakan keseriusan BKN dalam mengelola situs pendaftaran e-pupns tersebut, saya jadi turut berpikir dengan batas waktu yang diberikan oleh pihak BKN. Empat bulan, dengan kondisi server yang naik turun, ditambah jumlah PNS yang mencapai empat juta lima ratusan orang yang secara bersamaan harus mendaftar, maka itu akan membuka peluang bagi para PNS untuk tidak terdaftar. Pertanyaan saya, apakah ini yang diinginkan oleh pihak BKN atau Kemenpan? Kalo iya, untuk apa?

Kartu Pegawai Elektronik yang dibuat BKN pada tahun 2012, ada chipnya (HS.2015)

Kartu Pegawai Elektronik yang dibuat BKN pada tahun 2012, ada chipnya (HS.2015)

Saya masih ingat, beberapa tahun lalu, ada tim dari BKN yang datang ke kantor saya. Melakukan pemotretan dalam rangka pembuatan KPE (Kartu Pegawai Elektronik). Kartunya canggih, ada chip-nya. Tapi sampai sekarang saya belum pernah menggunakan KPE tersebut, dan tidak tahu manfaat KPE tersebut. Logika bodoh saya bertanya, kalau misalnya pada tahun 2012 BKN mengadakan proyek KPE, artinya data PNS ini ada di BKN. Dengan adanya chip dalam KPE tersebut, artinya data kami, para PNS, sudah tercantum dalam database BKN. Pertanyaan saya selanjutnya, kenapa jika tidak daftar ulang, maka akan dinyatakan berhenti dari PNS? Padahal sebenarnya data kami sudah terekam. Semudah itukah menghentikan status kepegawaian seorang PNS?

Di sini saya ingin bertanya juga, seandainya seorang PNS yang ditempatkan di pelosok daerah yang masih susah sinyal internet, apakah sanksi yang sama juga tetap berlaku? Padahal itu bukan kesalahannya tidak mendaftar, tapi karena sulitnya akses internet. Jangankan teman-teman sejawat yang kesulitan mencari sinyal internet, kami yang berada di ibukota provinsi pun, kesulitan mengakses dan login ke situs e-pupns tersebut. Bukan apa apa, tahun 2006 sampai 2009 saya pernah bertugas di pelosok Cianjur Selatan. Jangankan untuk akses internet waktu itu, sinyal HP aja masih timbul tenggelam. Mungkin sekarang sudah bisa akses internet, tapi daerah yang seperti itu, saya yakin, masih ada di seluruh Indonesia. Dan saya yakin pula, di daerah yang susah akses internet tersebut, ada satu dua orang PNS yang mengabdi dengan tulus demi kepentingan masyarakat di pelosok. Lalu jika mereka akhirnya tidak terdaftar, apakah serta merta mereka akan dihentikan sebagai PNS?

Selain itu, apakah sanksi pemberhentian status PNS ini manusiawi? Di kantor, saya melihat kegigihan seorang senior yang masa kerjanya mungkin tinggal dua tahun lagi menuju pensiun. Berulangkali bapak senior ini mendaftar, berulangkali pula situs tidak bisa diakses. Saya mengapresiasi kegigihannya dalam mendaftar e-pupns ini di saat yang lain masih belum ngeh dengan pendaftaran ulang PUPNS ini. Saya kira, Beliau sangat gigih untuk mendaftar karena tidak mau tiba-tiba pengabdiannya yang sudah berpuluh tahun sebagai PNS, kemudian dinyatakan berhenti hanya karena gagal mendaftar.

ini tampilan ketika kemarin, tadi malam, dan pagi ini mencoba akses situs e-pupns (capture dari website e-pupns.bkn.go.id)

ini tampilan ketika kemarin, tadi malam, dan pagi ini mencoba akses situs e-pupns (capture dari website e-pupns.bkn.go.id)

Saya bukan ingin mengkritik BKN. Tidak. Saya pernah bekerja di Subbagian Kepegawaian. Dan saya tau menata administrasi pegawai itu tidak mudah. Saya tau, ini adalah upaya BKN untuk menata ulang administrasi kepegawaian para PNS, soalnya ada ribuan PNS fiktif. Dan pendaftaran ulang ini untuk mengikis yang fiktif fiktif tersebut. Setau saya, memang penataan administrasi kepegawaian jutaan orang itu tidak mudah. Jangankan jutaan orang, di lingkungan kantor saya saja yang Cuma 200-an orang, kami kewalahan untuk menata administrasi kepegawaian agar rapih dan baik. Di sini saya hanya ingin menanyakan keseriusan BKN dan Kemenpan RB. Apakah e-pupns ini benar-benar sudah siap? Jika iya sudah siap, mengapa tidak ada sosialisasi dari berbulan-bulan lalu? Saya bertanya ke teman-teman di daerah, mereka bahkan belum tahu akan ada pendaftaran ulang PNS. Jika iya sudah siap, mengapa server selalu down ketika kami akses untuk mendaftarkan status kepegawaian kami? Kemana saya harus bertanya tentang hal ini? (HS. 2015)

 

Update: tadi malam saya coba akses situs e-pupns tersebut, tetep gak bisa diakses. Terus pagi ini akses mau login, tetep gak bisa masuk juga… Help. Gimana ini BKN?

Pemimpin itu…

Assalamualaikum wr wb

Kayaknya baru kemaren ya kita lepas dari hiruk pikuk pemilu yang membawa efek unfriend-unfriend-an temen facebook. Sekarang  situasi politik lagi memanas tentang ‘keberhasilan’ DPR mengesahkan UU Pilkada. Efek pemilu yang kemaren pun kembali terulang. Saling sindir di facebook, dan saling serang, antara ‘rakyat’ yang pro dengan pilkada langsung, dan ‘rakyat’ yang pro dengan hasil pengesahan UU pemilihan Kepala Daerah melalui mekanisme DPRD.

Tadi malem, anggota Dewan yang baru saja dipilih juga sudah langsung membuat kehebohan ketika memilih pemimpin yang akan mengetuai mereka di gedung wakil rakyat tersebut. Rupanya kehebohan di senayan juga merembet ke kehebohan di dunia maya dengan melahirkan hashtag #saveceupopong. Ceu popong adalah pimpinan sidang anggota dewan dalam menentukan pemilihan ketua DPR, beliau dipilih karena dianggap sebagai anggota DPR tertua di antara seluruh anggota DPR yang ada. Hashtag #saveceupopong ini masih ramai bertebaran hingga keesokan harinya. #saveceupopong menjadi menarik karena dalam proses pemilihan Pimpinan di DPR yang diwarnai kericuhan ini, Ibu Popong Otje Djundjunan mampu memimpin sidang hingga dini hari, meskipun harus diwarnai banyak interupsi.

Baik kasus RUU Pilkada, maupun kasus #saveceupopong, jika ditarik benang merah, keduanya memiliki kesamaan. Yakni sama-sama terkait dengan pemilihan PEMIMPIN. Memang, memilih pemimpin itu bukan perkara mudah. Ada banyak kepala yang menginginkan kriteria tersendiri dalam memilih seseorang untuk menjadi pimpinannya.  Makanya setiap orang akan mempertahankan pendapatnya agar pimpinan yang sesuai dengan kriterianya, bisa memimpin kelompoknya. Dan hendaknya ketika orang sudah dipilih untuk menjadi pemimpin, maka orang tersebut harus mampu melipatgandakan tanggung jawabnya untuk mengelola orang-orang yang dia pimpin. Mengelola itu kunci dari ilmu manajemen.

Leader (Gambar dari Shutterstock photo)

Berbicara tentang menjadi pemimpin, ada baiknya kita sedikit belajar tentang kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi pemimpin. Siapa tau ada di antara kita yang akan menjadi pemimpin, atau malah sudah duduk di kursi jabatan di kantornya. Yaaa mau tidak mau harus belajar mengenai seni kepemimpinan.

Menurut dosen saya, menjadi seorang pemimpin itu bukanlah perkara yang mudah. Tanggung jawab yang dia emban adalah tanggung jawab dunia akhirat. Meskipun hanya memimpin lima atau enam orang dalam unit kerjanya, tanggung jawabnya akan tetap sama dengan memimpin seratus orang. Intinya menjadi pemimpin itu harus BERTANGGUNG JAWAB.

Baca lebih lanjut

Belajar

Assalamualaikum…

Apa kabar? sudah lama sekali saya tidak membuka blog ini, lama banget saya tidak menuangkan uneg-uneg di blog ini. alesan sibuk, jadi alibi saya untuk membiarkan blog ini bulukan. padahal dulu, blog ini jadi teman baik saya ketika pikiran saya mumet oleh urusan-urusan yang sama sekali bikin kepala saya pening. blog yang, kata temen saya, ga jelas karena bermacam-macam tema saya tulis di sini. padahal memang tujuan saya membuat blog ini adalah untuk melarikan diri dari rutinitas dan keterikatan, makanya isinya beraneka macam.

Gimana kabarnya? saya masih tetap belajar nulis kok. sekarang sih meningkat ke belajar menulis dengan aturan. sumpah njlimet hehehe.

oya, ngomong-ngomong soal belajar, ada sedikit yang ingin saya tuliskan di sini. nih….

orang ini sok sibuk. blognya gak pernah diupdate.

orang ini sok sibuk. blognya gak pernah diupdate.

BELAJAR

Belajar itu bisa dari mana saja. Dari orang tua, orang yang lebih tua, orang yang lebih tau, orang yang terlihat tidak tau tapi sebenernya tau, dari orang yang lebih muda, dari anak-anak, dari pengemis, dari tukang dagang, dari atasan, dari bawahan, dan tentu saja dari guru atau dosen.  Semua orang yang ada di sekitar kita adalah guru bagi kita. Jadi tak perlu malu untuk bertanya ketika kita tidak tau sesuatu. Dan tidak perlu merasa hina ketika orang yang (keliatannya) levelnya di bawah kita memberi tau kita tentang sesuatu yang kita tidak tau. Artinya mereka menginginkan kita untuk tau seperti mereka tau tentang sesuatu yang mereka tau (pusing ya?).

Hidup itu memang tidak pernah lepas dari pelajaran yang bisa kita ambil. Tak perlu malu atau gengsi untuk belajar. Karena dengan belajarlah kita menjadi tau perkara sesuatu yang awalnya kita tidak tau. Buang jauh-jauh gengsinya. Karena gengsi hanya akan menjadi blocking bagi mental kita. Buat apa gengsi dipiara? Mending miara sapi atau miara ayam. Kalo ga punya sapi atau ayam, bisa miara sapid an ayam di HP lewat game hayday (game ini yang bikin temen saya kecanduan heuheuheu).

Jangan sombong. Ketika kita sudah belajar, jangan lantas kita merasa bisa. Apa yang kita sebut bisa, bisa jadi hanya seujung kuku pengetahuan orang lain. Kalaupun kita memang bisa, apa salahnya kita tetap rendah hati, gak rugi juga bukan? Malah akan menaikan wibawa kita di mata orang lain. Ini sih pengalaman saya ya, sejak jaman SMP, saya sudah bisa memastikan, ketika saya terbersit rasa pongah atau sombong dengan berpikiran MERASA BISA, maka bisa dipastikan hasilnya akan BURUK. Dan itu selalu terbukti, ketika saya MERASA BISA, maka saya akan berleha-leha, tidak giat belajar, dan hasilnya akan anjlok. Sudah terbukti.

Ngomong-ngomong, sudah kelamaan blog ini tidak saya update. Mudah-mudahan postingan ini bisa menjadi awal baru untuk saya kembali belajar menulis. Karena dengan menulis saya banyak membaca, dan dengan membaca, artinya saya sedang belajar. Dengan belajar, artinya saya menambah pengetahuan saya. Biar ga dibilang goblok sama temen sendiri.

BTW, Besok saya mau uts matkul kepemimpinan. Dan sekarang saya terkapar tidak bisa belajar. Gara-garanya kecapean, hampir empat hari kurang tidur. Dan kalo besok saya tidak bisa mengerjakan soal, itu artinya saya memang goblok karena hari ini tidak belajar.

Sekian.

Kapan-kapan saya akan posting tentang materi kuliah kepemimpinan yang pernah saya dapet ya. Biar kita sama-sama belajar. Yaaa, ga usah gengsi, kalo memang belum punya jiwa kepemimpinan seperti saya, baca-baca lewat blog orang juga bisa menambah pengetahuan tentang kepemimpinan kok. J

Ngeblog Berbuah Pekerjaan

salah satu tulisan saya yang menjadi headline di kompasiana - hs.doc

Bangga, itu yang saya rasakan ketika saya bertemu dengan tim FFI. Salah satu industri pengolah susu untuk brand susu bendera tersebut mengontak saya untuk menulis di media internal asuhan mereka. Media yang dibuat sebagai bentuk corporate social responsibility (CSR) grup FFI ini ditujukan untuk salah satu koperasi susu di Lembang Bandung Barat yaitu KPSBU.

Saya bangga manakala saya diperkenalkan sebagai penulis yang tergabung dalam blog kompasiana. Sebuah blog yang merupakan cucu dari sebuah media besar kompas, maka mau tidak mau nama saya dikaitkan dengan nama media kompasiana tersebut. Dan tanpa saya sadari rupanya mereka langsung mempercayai kredibilitas saya karena tergabung dalam blog asuhan kompas itu.

Benar, saya bangga ketika tim FFI menyambut saya sebagai seorang penulis. Sebab selama ini saya merasa menulis hanyalah hobi semata. Dan lagi, saya tidak pernah menyatakan diri sebagai penulis. Saya hanyalah penghobi nulis yang saya aktualisasikan dalam bentuk blog. Blogger mungkin lebih tepat untuk saya.

Adapun tugas saya nantinya adalah menulis dalam basa sunda. Bahasa sehari-hari yang saya pakai dari masa saya kanak-kanak hingga saat ini.  sebenarnya agak ragu juga saya menerima tawaran menulis artikel dalam basa sunda ini. apa sebab? Karena basa sunda itu bukanlah bahasa yang gampang. Mungkin gampang-gampang susah adalah istilah yang tepat untuk basa sunda ini. Saya belum berpengalaman menulis artikel berbahasa sunda. Namun saya merasa ini adalah tantangan baru untuk saya sehingga saya menyanggupi tawaran pihak FFI.

Hari jumat tanggal 4 maret lalu adalah hari pertama saya bertemu dengan calon tim saya nantinya. Saya ikut serta menemui KPSBU Lembang untuk melakukan interview. KPSBU merupakan akronim dari Koperasi Produsen Susu Bandung Utara. Sebenarnya tugas saya juga melakukan interview di hari itu bersama Bapak Dedi, ketua KPSBU. Namun berhubung pak Dedi sedang ada kepentingan di Jakarta, bertemu dengan pak Menkop, maka tugas saya menjadi urung dilaksanakan. Saya pun mengikuti sesi wawancara yang dilakukan oleh Mbak Bondet (penulis utama spinner-perusahaan konsultan yang disewa FFI) bersama Bapak Ramdan. Bapak Ramdan ini adalah sekretaris KPSBU.

Dulu, saya memang pernah bercita-cita menjadi wartawan. Namun tak kesampaian karena satu dan lain hal. Dan kali ini, Tuhan memberikan hadiah terindah bagi saya di usia menjelang kepala tiga ini. saya melakukan tugas sebagai freelance writer yang pekerjaannya mirip-mirip dengan pekerjaan wartawan. Saya takjub melihat partner saya Mbak Bondet yang sungguh di mata saya dia sudah menjadi wartawan beneran. Segala atribut dan kelengkapan yang dimilikinya pun benar-benar lengkap. Sedangkan saya, kemarin, hanya datang bersendal jepit hehehe.

Selama di KPSBU, kami (saya dan Mbak Bondet) mewawancarai pak Ramdan tentang aneka macam kegiatan KPSBU. Pengalaman baru bagi saya. Banyak hal-hal baru yang saya ketahui tentang produsen susu, istilah-istilah dalam industri mereka, hingga sedikit tentang keadaan peternakan sapi. Dalam sesi wawancara tersebut, Mbak Bondet lah yang banyak bertanya tentang materi yang nantinya akan ditampilkan dalam tabloid internal yang belum diberi nama itu.

Dari Lembang, kami meluncur ke Pangalengan. Lagi-lagi, ini adalah pengalaman baru bagi saya. Saya disambut oleh tim FFI di sana. Sedikit briefing tentang apa tugas saya nantinya juga dipaparkan di sana.

Ah, beruntung sekali rasanya saya terjun ke dunia blogosphere ini. Jujur saja, saya ngeblog belum lama, tahun 2009. Dan segera bergabung dengan blog kompasiana. Dari kompasiana lah saya banyak belajar tentang menulis. Dan dengan menjadi anggota kompasiana lah nama saya mendapat embel-embel sebagai penulis. Sungguh, saya bangga bergabung di blog yang penuh dinamika itu.

Sekarang, saya harus lebih banyak belajar basa sunda agar nanti artikel yang saya buat tersebut lebih mumpuni untuk dibaca dan dipublikasikan.

Salam-HS.

Kakimanangel-6maret2011

 

 

Amunisi Syariah

Sejatinya tulisan ini

akan saya sertakan dalam lomba di blogging day

di kompasiana

namun karena gangguan teknis di kompasiana

jadi saya posting di sini

Tepat setahun yang lalu, saya dan beberapa kawan SMA melaksanakan reuni di salah satu vila di kawasan Cipanas Puncak. Pertemuan kembali setelah terpisah hampir sembilan tahun tersebut ternyata berhasil mempersatukan kami kembali dalam sebuah ikatan silaturahmi yang pada akhirnya kami beri nama sendiri. AMUN1C2K (dibaca AMUNISI).

Awalnya hanya sekadar iseng dan pelemparan wacana dari salah satu rekan saya, Oki, untuk membuat semacam koperasi atau wadah yang bisa digunakan sebagai fasilitasi silaturahmi. Terlontarlah ide untuk membuat semacam koperasi, dari kami untuk kami sendiri. Obrolan pun berubah menjadi serius manakala membahas masalah dana dan peraturan. Disepakatilah bahwa kita meminjam peraturan syariah untuk menjalankan perkumpulan ini.

Ya, kami memakai sistem syariah karena ternyata itu mampu memberikan keuntungan lain bagi kami para anggotanya. Saat ini, anggota kami masih ber-13, dan belum cukup untuk menjadi sebuah wadah koperasi. Namun semangat kami tak pernah surut untuk membangun dan mewujudkan cita-cita kami di kemudian hari. Saat ini kami masih dalam tahap pengumpulan modal awal dimana setiap anggota wajib deposit dana sebesar Rp.1.200.000,- yang dikumpulkan dalam jangka waktu dua tahun. Artinya, setiap bulan kami harus menabung sebesar Rp. 50.000,- dan disimpan dalam rekening bersama yang kami percayakan kepada salah satu bank syariah.

Kenapa kami memilih sistem syariah dan bank syariah sebagai pokok peraturan kami? Jawabnya mudah, karena sistem perbankan syariah Insya Allah adalah sistem yang halal dan tidak memberatkan bagi kami. Sedangkan bank tempat kami deposit dana, juga dipilih bank syariah, karena kami berusaha untuk tidak mencampurkan uang rekening tersebut dengan hal-hal yang berbau riba. Intinya, kami ingin belajar untuk mengelola keuangan sesuai dengan yang digariskan ajaran agama yang kami anut.

Saat ini, kami memang masih belum memiliki unit usaha mandiri karena terbentur masalah pendanaan. Karena ternyata seiring waktu berjalan, dan kesibukan masing-masing, selalu saja ada yang lupa dan nunggak membayar iuran wajib yang kami sepakati. Kami baru mampu menjalankan simpan pinjam dan pembiayaan berbasis syariah dengan kesepakatan bagi hasil yang cukup ringan bagi si peminjam, dalam hal ini adalah sesama anggota kami sendiri.

Pembiayaan kami menggunakan prinsip syariah jual beli atau dalam istilah perbankan syariah dikenal dengan nama MURABAHAH. Murabahah merupakan akad jual beli dimana harga dan keuntungan disepakati antara penjual dan pembeli. Jenis dan jumlah barang dijelaskan secara rinci. Pembayaran bisa dilakukan dengan cara sekaligus atau mencicil. Dalam hal ini, perkumpulan AMUN1C2K adalah penjual dan kami sebagai anggota adalah pembeli. Dengan demikian, diharapkan ada keuntungan yang kami peroleh untuk menambah modal awal kami.

Sedangkan bagi hasil yang kami peroleh, kami sepakati dengan menggunakan prinsip MUDHARABAH. Mudharabah adalah akad yang dilakukan antara pemilik modal dan pengelola dengan nisbah bagi hasil yang disepakati di awal, sedangkan kerugian ditanggung pemilik modal. Dalam hal ini, kami anggota AMUN1C2K adalah pemilik modal, sehingga apabila kelak memperoleh bagi hasil, kami-kami sendiri yang akan menikmatinya. Dan pada akhirnya disepakati bahwa bagi hasil yang kami peroleh dikembalikan sebagai modal awal untuk cita-cita kami di kemudian hari.

Di masa depan, bukan tidak mungkin kami akan merambah usaha lain. Salah satu cita-cita kami adalah membantu para pelaku ekonomi kelas bawah demi menghilangkan praktek renten. Mulia bukan cita-cita kami? Hehehe (narsis dikit gapapa ya).

Mungkin kelak, ketika modal kami sudah menggelembung gendut, kami akan benar-benar menerapkan prinsip syariah lainnya untuk unit-unit usaha kami. Masih banyak hal yang belum kami terapkan tentang prinsip perbankan syariah. Dalam hal pembiayaan jual beli, bukan tidak mungkin kelak kami akan memakai prinsip pembiayaan jual beli Salam, Istishna, ataupun Ijarah. Dalam hal bagi hasilpun, kami pasti akan menerapkan prinsip lain selain mudharabah, karena masih ada Musyarakah atau bagi hasil berdasarkan berkongsi. Sedangkan untuk pembiayaan jasa (wakalah, kafalah, hawalah, rahn, qard) sama sekali belum terpikirkan mengingat, lagi-lagi, dana awal kami belum mampu sampai ke tahap itu.

Hmmm, anda berkerut kening membaca tulisan saya tentang prinsip perbankan syariah? Tidak usah. Anda tak perlu repot mengerutkan kening, saya khawatir anda malah cepat tua karena tidak mengerti prinsip syariah tersebut. Saat ini perbankan syariah sudah cukup menjamur di setiap kota, dan anda hanya perlu mendatangi salah satu bank syariah di kota anda. Lalu coba anda tanya-tanya tentang prinsip perbankan syariah. Yaaa itung-itung anda silaturahmi dengan kawan-kawan di bank syariah. Mereka pasti akan menjelaskan apa yang ingin anda ketahui, dengan senyum manis dan ikhlas untuk anda tentunya. Saya yakin, setelah mendapat penjelasan dari yang mumpuni di bidangnya, anda pasti tertarik untuk menggunakan produk perbankan syariah karena akan memberikan keuntungan yang sesuai untuk anda. Yakinlah apa yang dikatakan Hadi! Hehe.

Akhirnya, saya berharap semoga kelak perkumpulan kami dapat memberikan manfaat untuk lingkungan sekitar kami. Dan semoga dengan dipublikasikannya tulisan ini, makin banyak teman-teman satu angkatan sealmamater SMU saya, lulusan tahun milenium, segera bergabung dengan perkumpulan kami.

Salam syariah (HS)

Serba-Serbi Sensus: Menjelang Akhir Mei

berpose sejenak setelah letih merapihkan data

Hampir satu bulan ini saya disibukan dengan kegiatan yang menjadi pengalaman baru bagi saya. Ya, apalagi kalau bukan sensus penduduk 2010. Dimana pada pelaksanaan SP 2010 ini saya terlibat langsung menjadi koordinator tim untuk dua wilayah rukun warga di salah satu kelurahan di kota tempat tinggal saya. Tidak hanya menjadi pengawas di lapangan terhadap para petugas lapangan tim saya, namun juga turut terjun langsung mengetuk pintu dari satu rumah ke rumah lainnya.

Ada banyak peristiwa dan pengalaman yang kami lalui. Suka duka satu bulan melaksanakan pendataan akhirnya akan menjadi kenangan manis untuk diingat dikemudian hari. Alasan itulah yang menjadi penguat bagi saya untuk membaginya disini. Tercatat saya membuat 9 tulisan selama pelaksanaan SP 2010. Sungguh, saya tidak mempunyai ekspektasi ataupun tujuan tertentu dengan membagi cerita saya disini. Apalagi jika ada tuduhan bahwa saya menelanjangi subjek sensus penduduk melalui tulisan-tulisan saya. Duh, terlalu picik rasanya jika ada yang berpikir demikian, hehehe.

Dari total hampir 550 rumah tangga yang kami data, dengan jumlah jiwa sebanyak 2124, kami menemukan banyak cerita. Mulai  dari menjadi tempat curhat tentang keadaan ekonomi keluarga yang tidak mendapat Beelte hingga tuduhan teroris karena di awal ketika penelusuran wilayah, kami hanya bersendal jepit, hahaha… what a nice memories.

Banyak pengalaman dan  hikmah yang bisa saya petik dari kegiatan sepuluh tahunan ini. Pertama adalah kesabaran saya yang harus saya latih ketika bertemu dengan karakter orang yang bermacam-macam. Disini saya harus memposisikan diri sebagai seorang servant, Pelayan masyarakat.  Apapun kondisi warga, mereka adalah raja. Entah caci maki, atau kebaikan, pasti harus kami telan mentah-mentah. Kedua adalah kedisiplinan. Saya dan anggota tim harus mematuhi jadwal yang kami buat jika kami ingin menyelesaikan pekerjaan sesuai yang kami jadwalkan. Ketiga adalah kerja sama tim. Apalagi saya dijadikan team leader, saya disini belajar bagaimana caranya menjadi manajer atau pimpinan. Ternyata tidak mudah lho. Saya menjadi tahu bahwa menjadi pemimpin yang baik itu (setidaknya menurut versi saya) adalah dengan memberi contoh langsung, bukan dengan memerintah tunjuk sana sini.

Saya pun belajar bagaimana caranya berhadapan dengan orang anti pemerintah. Berhadapan dengan orang-orang yang memiliki kesibukan sehingga jarang berada di rumah. Belajar berhadapan dengan masyarakat yang sangat sangat heterogen. Dari kalangan atas hingga kalangan bawah.

-hs-

Ada cerita lucu, tapi tidak sedikit cerita haru. Beberapa cerita lucu pernah saya bagi disini. Sisanya menjadi konsumsi tim kami. Cerita haru pun sempat saya bagi disini. Itu hanyalah sepersekian dari pengalaman yang saya dapat selama satu bulan ini. Cerita-cerita itu menjadi hiburan bagi kami ditengah-tengah penat dan sibuknya mengumpulkan data. Sungguh,  Mei 2010 ini adalah bulan yang cukup sibuk, tapi sungguh.. saya sangat menikmati kesibukan itu.

Kesibukan yang menyita waktu itu saya sengaja kebut. Saya mempola jadwal supaya selesai tanggal 20. Maka konsekuensi dari itu adalah saya turut terjun langsung ke lapangan. Tidak perduli apakah hari panas menyengat, atau hujan deras bercampur petir, kami tetap melaksanakan tugas supaya apa yang sudah saya jadwalkan bisa selesai tepat waktu.  Mengapa saya menjadwal untuk selesai tanggal 20, hingga saat ini anggota tim saya tidak pernah tahu apa alasan dibalik itu semua. Yang mereka tahu, supaya pekerjaan cepat selesai. Padahal bukan itu hehe, saya ada rencana ke Jakarta tanggal 21 nya untuk Menghadiri launching STC. Namun ternyata diundur hahaha.

Oya, untuk anda yang belum disensus, coba hubungi pak RT/RW atau kelurahan untuk mendaftarkan diri anda. Karena sebagai manusia, petugas sensus sendiri memiliki keterbatasan. Entah lupa atau terlewat.

Semoga hasil dari SP 2010 ini akurat dan representative untuk menjadi basis data pembangunan Negara Indonesia tercinta.

Sampai jumpa di reportase kegiatan sensus lainnya. (HS)

Kakimanangel-seminggusebelumharikesaktianpancasila.

kegiatan sensus dalam gambar:

lembar formulir berserakan - dok.pribadi

merapihkan tulisan setelah pulang dari lapangan- dok.pribadi

pose sejenak setelah dari lapangan - dok.pribadi

Ada Desah dibalik Sensus!

Tidak terasa sensus penduduk sudah memasuki hari ke-empat. Saya selaku koordinator tim di wilayah garapan saya mulai menemukan cerita-cerita seru dari tiga anggota pencacah lapangan yang mulai menjalankan tugasnya melaksanakan sensus penduduk.

Sebagai strategi agar kekompakan tim tetap terjalin, saya melibatkan semua PCL (Petugas Cacah Lapangan – sebutan bagi para petugas pendata) untuk melaksanakan pendataan di tiap blok. Dari total enam blok, kami mengerjakan pendataan per blok secara keroyokan. Strateginya adalah menyebar para PCL untuk me-listing warga dengan menanyai jumlah anggota keluarga dan siapa kepala keluarganya. Panas terik sudah mulai menjadi sahabat kami kelihatannya.

Adalah Deinda, salah satu PCL dari tim saya yang ikut melakukan pendataan di blok pertama yang kami garap. Laki-laki yang baru saja lulus SMA ini tampak bersemangat melaksanakan pendataan. Dia datangi rumah demi rumah untuk menanyai satu persatu warga supaya mendapatkan data real. Pada hari ke empat ini Deinda yang akrab disapa Deden ini menemukan cerita menarik. (sempat saya share juga di facebook).

Begini, ketika Deden mengetuk satu pintu rumah kontrakan yang hanya berukura tidak lebih dari 20 meter persegi, tidak ada jawaban dari si pemilik rumah. Karena sudah menunjukkan jam 11, Deden pun pulang ke posko. Saya masih memeriksa hasil pendataan anggota tim di posko, takut-takut ada yang terlewat. Kemudian Deden melaporkan berapa rumah yang sudah berhasil didata. Karena tidak ada kerjaan, dan mungkin masih penasaran, Deden pun kembali berangkat ke lapangan dan sasarannya adalah rumah yang belum terdata tadi. 20 menit berselang dia kembali lagi ke posko, dengan muka cerah tentunya. Saya berpikir, pasti Deinda sudah menyelesaikan pekerjaannya.

Tiba-tiba Deinda bercerita pengalaman yang baru saja dia temukan. “Pak, barusan kayaknya saya ganggu orang yang lagi hanimun deh.”

Kening saya berkerut, tidak mengerti.

“Iya, saya kan ketok rumah yang tadi. Masih gak ada yang buka. Saya ketok beberapa kali, eh tiba-tiba ada jawaban. Saya menunggu beberapa saat, ternyata yang buka perempuan pak.”

Terus?

“Pas saya masuk, saya melihat suaminya pake sarung. Istrinya keringetan gitu. Udah gitu, ada CD warna merah teronggok di ruangan tersebut. Kayaknya  punya suaminya deh pak. Duh saya ganggu yang lagi hanimun neh pak hehehe. Pantesan aja jendelanya ditutupin gorden semua pak, hahaha….”

Spontan saya tertawa. Gila, siang-siang gitu lho.. hahaha. Begitu diceritakan pada dua tim yang lain, kami pun tertawa bersama-sama. Ternyata ada juga ya cerita seperti itu di balik sensus penduduk. Usut punya usut, kata pak RT yang juga anggota tim saya, pasangan tersebut memang mencari nafkahnya malam-malam.

“Mereka jualan bubur malem-malem, jadi kalo malem gak bisa hanimun.” Begitu kata pak RT.

hehehe, pengalaman sensus yang unik.

~hs~

So far, hingga saat ini kami belum menemukan kendala yang berarti. Semoga pelaksanaan sensus yang saya kerjakan tetap lancar dan selesai lebih cepat dari waktu yang ditetapkan, biar bisa ikut kopdar sama temen-temen pas launching buku ML dan STC akhir mei nanti. (HS)

Kakimanangel, 04052010 – sibukternyatamenyenangkankaloduitnyasesuaihehe