Sukses Kejebak Macet (lagi)

mengular

Saya nggak pernah ngerti, berulang kali saya melalui jalur puncak dikala weekend, berulang kali pula saya melihat mobil-mobil berplat B wara-wiri di sana. Meski nggak tiap weekend saya melewati jalur puncak, tapi dalam catatan saya, hampir setiap saya kea tau pulang dari Jakarta, saya selalu kejebak situasi yang menjemukan di daerah sejuk itu. Macet!

Jadi gini, ceritanya hari sabtu kemarin saya menyambangi acara ulang taun blog besutan kompas grup, Kompasiana. Ulang taun ke tiga yang diadakan di F Cone, FX Plaza senayan itu dihelat bertepatan dengan hari sabtu, 10 Desember. Which mean, saya harus menembus kondisi yang menyebalkan di puncak. Satu kata, macet.

Berangkat pagi-pagi sekali dari rumah, berharap tidak bertemu kemacetan, prediksi saya tepat. Saya nyampe Bogor itu sekitar jam 830-an. Saya nunggu lah di stasiun Bogor biar bisa bareng sama temen-temen dari Bogor. Singkatin ah, ceritanya saya sampe Jekarda dengan sukses. Tanpa perlu nanya ini itu, karena teman saya Budina, sudah tau rutenya.

Gimana Had acara di sana? Hihihi, saya ga tega buat ngereviewnya. Katanya sih sukses. Kata temen-temen yang hadir juga. Tapi buat saya? aduh, masa sih saya harus bilang di sini? Kan gak enak sama yang ngundang… mending baca aja deh tulisannya jeng winda si emak gaol di sini.

Dua kali saya harus turun naik demi mengisi perut dan kerongkongan yang kering. Alhasil, begitu turun untuk ke dua kali, saya ogah naik lagi ke acara tersebut (naik karena memang acaranya ada di lantai tujuh). Dengan tegar saya memutuskan untuk langsung pulang klampung hari itu juga. Beruntung, saya bareng si mangkum. Dan dia juga ikut-ikutan balik, karena merasakan atmosfir yang sama untuk acara yang dihelat grup kompasiana itu.

Baliknya tumben-tumbenan gak pakѐ kereta kayak biasanya. Saya naik bis nyambung tiga kali. metromini dari FX ke semanggi. Bis dari semanggi ke Kp.Rambutan (turun pasar rebo), dan nyambung bis ke kampung dari pasar rebo.

Gelagat kurang baik sudah tercium sejak saya naik itu bis ke kampung. Fiuhhh, saya harus berdiri tegar sampai hari ini… (halah…). Iya, berdiri artinya gak kebagian tempat duduk. Lagian mana mau sih saya, kalo ada tempat duduk, terus harus berdiri. Orang gila xixixi….

Saya berdiri bersama satu orang ibu, anaknya ibu itu, dan beberapa orang laki-laki. Perjalanan Jakarta menuju Ciawi awalnya nggak bermasalah. Namuuunnn, 500 meter menjelang gerbang tol Ciawi, tiba-tiba bus diam tak bergeming. Berhenti mendadak karena semua mobil yang ada di depannya juga berhenti. Alamaaaak, ini buntut kemacetan di Puncak sudah sampe gerbang tol. Setengah kilometer aja gitu dari GT Ciawi. Padahal nih ya, dari Kp. Rambutan ke gerbang tol itu saja hampir satu jam lebih. Dan dalam waktu selama itu saya berdiri. Jadi demi menempuh sampai ke ciawi yang Cuma sekitar satu kilometer-an itu harus menghabiskan waktu satu jam lagi. Totalitas banget ya saya… demi itu acara ulangtaun K’SIAN-nival.

Baca lebih lanjut

Iklan

[Refleksi Diri] Bersyukur atau Sukurin

macet di puncak – doc.HS 2011

 

 

Hari sabtu, 18 juni kemarin, saya berkesempatan untuk bertemu dengan teman-teman di ibukota. Seperti biasanya, jika ingin ke ibukota, satu-satunya jalan yang harus saya lalui adalah melalui jalur puncak. Tidak ada pilihan yang menguntungkan jika hari sabtu seperti kemarin saya harus ke Jakarta dan harus melalui jalur puncak, karena ketika weekend seperti itu arus lalu lintas di jalur puncak akan mengalami buka tutup jalur. Alhasil, macet satu arahpun tak terhindarkan.

Begitupun dengan apa yang saya alami. Karena angkutan umum yang membawa saya leletnya bukan main, maka saya pun terjebak macet di puncak. Jalur ke arah Bogor sudah terlanjur ditutup, sedangkan arah sebaliknya sedang lancar. Alhasil, saya pun stuck di tempat dimana saya terjebak macet.

Benar kata orang, waktu adalah uang. Karena saya mengejar pukul 14 harus sudah di Ibukota, sementara waktu menunjukkan pukul 10 dan jalan baru akan dibuka sekitar pukul 12, maka saya pun turun dari angkutan. Saya coba lihat situasi sambil berjalan kaki. Saya pikir, lebih baik jalan kaki, daripada saya ngedumel dan tidak bergerak sama sekali. Saya lihat mobil-mobil yang menuju arah bogor parkir gratis di tengah jalan alias tidak bergerak.

Rugi dua kali rasanya jika saya harus jalan kaki sambil ngomel-ngomel. Maka sayapun mencoba mengubah mindset saya tentang macet. Jika selama ini saya berpikir saya akan stuck dan tidak bisa apa-apa ketika macet, maka kemarin saya coba berpikir: kenapa tidak dinikmati saja? Jarang-jarang saya bisa jalan kaki di puncak dalam kondisi udara segar dan jalan lengang (memang setelah saya melewati portal yang dipasang pengatur lalu lintas untuk menutup jalan, saya tidak menemui kemacetan lagi. Hanya mobil ke arah puncak saja yang melaju). Alhasil saya menikmati perjalanan saya. Saya mencoba menikmati hamparan kebun teh yang hijau memanjakan mata. Saya juga coba ambil beberapa foto bunga-bungaan liar yang jarang diperhatikan. Dan apa yang saya lakukan diikuti juga oleh dua orang lainnya. Saya berpapasan dengan mereka setelah berjalan sekira 10 menit. Karena saya berjalan santai, maka kedua orang tersebut dapat menyusul saya.

Karena memang dikejar waktu, maka saya segera menyambung perjalanan dengan kendaraan lain yang bisa menembus macet. Voorijder pribadi yang hanya berbayar 25 ribu rupiah saja. Ojek! Hehehe…

Kemarin saya belajar, ternyata, segala sesuatu itu berasal dari pikiran. Ketika saya memutuskan untuk berpikir bahwa saya akan mati kutu terjebak macet, maka sayapun benar-benar mati gaya menunggu mobil untuk bergerak. Tapi ketika saya memutuskan untuk melihat itu sebagai sesuatu yang patut saya syukuri, semuanya terasa ringan. Malah saya dapat menyungging senyum sambil menikmati udara puncak yang sudah lama tidak saya hirup, dan mendapat pengalaman baru yang bisa saya abadikan melalui tulisan ini.

Semoga kelak ketika saya sedang bete, dan membaca tulisan ini kembali, saya bisa memutar pikiran lagi untuk berpikir tentang mensyukuri sesuatu. (HS).

Pinggiransarinahmenunggusarapan, 19062011
Lamatakpernahnulisrefleksisepertiini

Ketika Jurusan Cianjur Menggugat Jalur

Tulisan ini dimuat juga di Kompasiana

Tulisan ini mungkin bernada kemarahan. Tapi percayalah jika disikapi dengan kepala dingin akan ada sedikit bahan refleksi yang bisa kita sama-sama renungkan. Tulisan ini terinspirasi ketika saya terjebak macet, stuck selama hampir dua jam tiga puluh menit di kawasan Ciawi – Bogor, pada hari ahad sore.

~hs~

dok. pribadi

Saya sebenarnya paling malas harus bepergian ke Bogor atau Jakarta di akhir pekan. Tanya kenapa? Karena saya harus berjibaku dengan kemacetan yang selalu terjadi di Jalur Puncak. Ketika akhir pekan, apalagi masa-masa long weekend pasti kemacetan akan mengular panjang entah berapa kilometer. Entah dari arah Cianjur, ataupun dari arah Jakarta. Berkat kemacetan yang sampai saat ini belum ada jalan keluarnya, maka para pengelola jalan (termasuk polisi di dalamnya) membuat satu solusi yaitu BUKA TUTUP JALUR.

Sedikit terurai, sih, namun kita sebagai pengguna jalan harus memiliki kesabaran penuh ketika jalur yang kita lalui sedang ditutup. Satu jam sekali. Begitu kata supir El-tigaratus jurusan Cianjur-Bogor.

“kalau hari sabtu, ditutupnya di Cisarua. Perempatan arah taman safari.” Salah seorang ibu menjawab pertanyaan saya ketika kami berada dalam satu mobil angkutan umum yang sama. Perasaan senasib, sedang sama-sama menunggu buka jalur, membuat kami memiliki satu visi yang sama. Tapi ini bukan hari sabtu, ini hari ahad. Dan sore hari pula. Saya berada di Ciawi dan jalur menuju Cianjur ditutup sejak jam empat sore. Waktu menunjukkan hampir jam enam magrib.

“Kalau ahad memang lama gini, Mang?” saya pura-pura tidak tahu untuk memancing keluhan dari si supir.

“Iya Pak. Mau gimana lagi, kalo hari minggu ya harus seperti ini.” supir tersebut terdengar pasrah. Hmm, sebuah kondisi yang tidak menguntungkan rasanya. Sungguh tidak adil bagi saya. Bagi kami yang akan melalui jalur puncak menuju Cianjur atau Bandung. Sama-sama pengguna Jalan. Sama-sama bayar pajak (dan pajakna dihakan si Gayus edan), tapi kami harus mengalah dan menunggu lebih lama serta menyaksikan mobil-mobil melaju ke arah Jakarta yang melenggang dengan aduhai di depan mata kami.

Hati saya berteriak. Inikah istimewanya orang kota sehingga diperlakukan sedemikian rupa? Padahal yang membuat kemacetan itu bukanlah orang-orang desa seperti kami, tapi mereka lah yang memindahkan jalanan Jakarta ke jalur puncak. Namun mengapa harus kami yang mengalah?

Saya tidak ingin menyoroti keistimewaan dan ketidak istimewaan. Saya hanya ingin meneriakan curahan hati saya ketika saya terjebak macet karena keburu tutup jalur selama hampir dua jam tiga puluh menit.

Saya mencatat, kenapa bisa terjadi buka tutup jalur? Ya, ini karena volume kendaraan yang memenuhi jalur Puncak, lebih banyak. Sedangkan jalur tetap seperti itu. Ditambah kurang disiplinnya para pengemudi membuat macet yang harus dicari Solusinya.

Jawaban kedua, saya melihat bahwa ada pemborosan kendaraan. Sepanjang hari sabtu kemarin (9/4-2010) saya melihat iring-iringan kemacetan dari Jakarta ke arah puncak. Ada banyak mobil yang bertuliskan satu perusahaan auto leasing yang berplat nomor A, B, T, dan mungkin juga D serta F. Disinilah terlihat kurang efisien. Satu mobil isinya hanya dua atau tiga orang. Padahal banyak space kosong yang masih bisa diisi pengendara lain dari grup tersebut. Dari pada bawa mobil sendiri yang justru menimbulkan masalah baru. Benar, MASALAH BARU. Selain macet, ada pemborosan bensin juga. Dan artinya polusi akan makin bertambah. Bener nggak?

Tiga, saya juga melihat dan mencatat kenapa puncak harus buka tutup jalur. Ada ketidak disiplinan dari para pengendara. Entah itu mobil atau motor. Dengan seenaknya mereka menyalip kendaraan lain. sungguh tidak beretika, dan hasilnya tentu saja ada jalur yang tercuri. Stuck. Macet!!! Saya sendiri kadang jadi supir mobil dan juga pegang kemudi motor. Itulah makanya saya suka kesal melihat ulah ketidak disiplinan mereka.

Selain itu, saya juga kesal dengan ulah para kaum kapitalis yang ingin tiba dengan cepat dan membayar patwal polisi. Dengan enak, para polisi patwal tersebut mengurai jalur meminta jalan agar mobil yang dikawalnya bisa bebas meluncur. Padahal sekali lagi, KITA ADALAH SAMA-SAMA PENGGUNA JALAN!!! Disini terbukti, Uang telah menjadi segalanya. Kapitalisme menjadi raja atas manusia. Siapa yang punya uang, dia yang bisa mengatur jalan. Padahal saya yakin, para pengguna jalan lainnya pasti memiliki satu kepentingan di tujuannya masing-masing. Saya menyebut mereka A-R-O-G-A-N!

Mungkin niat kita semua menuju Puncak adalah ingin melepaskan penat. Stres setelah lima hari bekerja padat. Namun saya melihat bukan fresh yang didapat. Malah stres yang berkelebat. Supir, pengguna jalan, polisi, dan para pengatur lalu lintas lainnya terlihat berkerut kening. Berlipat muka. Ditambah asap kendaraan yang lumayan mengganggu hawa sejuk Puncak, membuat kepala kadang terasa nyut-nyutan.

Masalah lain yang timbul, adalah makin banyaknya para pengemis yang mengais rejeki di kawasan Puncak. Saya pernah belanja di warung depan rumah. Terlihat satu orang ibu tua dari RW sebelah yang merupakan pendatang, dan saya ketahui dia sering mengemis di kawasan Puncak. Ibu itu mengeluarkan uang recehan dan seribuan. Dia tukar di warung tersebut. Segera setelah pergi saya bertanya pada si empunya warung.

“Berapa kang?”

“dua ratus ribu lebih” jawabnya. Saya tercengang. Kaget.

“Iya, Kalau hari biasa segitu, kalau hari sabtu ahad malah bisa mencapai empat ratus ribuan.”

Wow, betapa sebuah penghasilan yang menggiurkan. Tidak heran jika jalur puncak yang makin sering macet itu telah berubah menjadi sarana tumpuan mencari nafkah para pemalas itu!

Masalah-masalah diatas pasti akan selalu ada seiring dengan jalur Puncak yang selalu macet. Jika belum ada solusi lain, pasti problem yang sama akan selalu mendera.

Itulah mengapa sekarang saya lebih memilih menggunakan angkutan umum jika bepergian keluar kota. Selain karena capek nyetir, saya bisa tidur atau bertualang menembus jalur tikus jika ngangkot dengan eltigaratus. Ketika kakak saya yang sekarang menjabat satu jabatan di Polda Bali datang, atau kakak saya lainnya yang bekerja di Polda Kalbar datang,  dan meminta dijemput atau diantar ke Bogor, saya sebenarnya berat hati menyanggupi karena saya malas berhadapan dengan macet. Namun ikatan persaudaraan lah yang membuat saya menyanggupinya. Strategi kami adalah berangkat pagi-pagi sekali sehingga jalur macet terlalui tanpa lama. Karena idealnya Cianjur-Bogor itu Cuma 1,5 jam. Jika terlambat sedikit saja, maka perjalanan tersebut bisa mulur hingga berjam-jam.

~hs~

Kemarin, ketika saya terjebak macet di Ciawi, saya berkelakar di status Facebook. “Buka tutup Jalur menguntungkan orang Jakarta?” Salah satu kawan saya balas berkelakar di kolom komentar.

“Lah kan memang Indonesia ini dibuat untuk orang jakarta SEMUANYA…”

Hahaha, kalau sudah begini, mending pindah ke Jakarta aja yuk, semuanya!!! (HS)

Kaki gunung manangel, 12042010.

Hadi – kompasianer yang terinspirasi menulis ini ketika macet di Ciawi.

NB: terima kasih jika anda berkomentar: salah sendiri nggak pulang lebih awal dari Bogor. hehehe

Menikmati Kabut

Sepulang dari kopdar TIM 13 Februari lalu, saya menyengajakan diri singgah di salah satu tempat favorit saya. tempat saya melepas penat, menikmati kesendirian, menghilangkan stress pikiran, gundah gulana batin saya. Tempat yang berada di sebuah ketinggian pegunungan yang dikelilingi oleh kebun teh yang menghampar hijau. Mesjid At-taawun di kawasan Puncak-Bogor.

Bertolak dari Jakarta jam 9 pagi menuju Bogor, dan disambung dengan trayek Bogor-Cianjur (dengan sedikit macet) saya tiba di at-taawun jam 11 pagi.

Nyessss… udara sejuk seketika menembus ruang pikiran saya yang memang belakangan ini sedang penat dengan rutinitas pekerjaan yang sebenarnya tidak saya nikmati. Tidak membuang waktu saya pun segera naik ke atas, berdiam diri di selasar masjid yang sedang ramai pengunjung karena memang hari ahad selalu ramai. Bulir-bulir air langit pun mulai menetes basah. Tampak beberapa anak, meskipun dilarang orang tuanya, bermain air dan hujan. Betapa menyenangkannya.

Saya berusaha untuk menenangkan pikiran dan berusaha untuk berkontemplasi atas apa yang sedang terjadi. Mencoba berdialog hati melalui layar netbook yang saya bawa. Dialog sisi hati saya, mengiba kepada-Nya. Sedikit saya kutipkan dialog hati saya yang saya tulis di at-taawun, tempo hari:

“Tuhan, jika lah memang ini pilihan jalan hidup yang Kau gariskan

Berikanlah pijakan untukku

Yang bisa mengarahkan aku menjadi lebih bernilai

Yang selalu peduli dengan diriku

Dan sabar membimbingku

Baca lebih lanjut